• ABDULLAH BIN ABBAS

    "Kyai Umat"

    Ibnu Abbas serupa dengan Ibnu Zubeir bahwa mereka sama-sama menemui Rasulullah dan bergaul dengannya selagi masih becil, dan Rasulullah wafat sebelum Ibnu Abbas mencapai usia dewasa. Tetapi ia seorang lain yang di waktu kecil telah mendapat kerangka kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidupan dari Rasuluilah saw. yang mengutamakan dan mendidiknya serta mengajarinya hikmat yang murni. Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasul ....

    Ia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah saw. Digelari "habar" atau kyahi atau lengkapnya "kyahi ummat", suatu gelar yang hanya dapat dicapainya karena otaknya yang cerdas, hatinya yang mulia dan pengetahuannya yang luas.

    Dari kecilnya, Ibnu Abbbas telah mengetahui jalan hidup yang akan ditempuhnya, dan ia lebih mengetahuinya lagi ketika pada suatu hari Rasulullah menariknya ke dekatnya selagi ia masih kecil itu dan menepuk-nepuk bahunya serta mendu'akannya: -"Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ta'wil".

    Kemudian berturut-turut pula datangnya kesempatan dimana Rasulullah mengulang-ulang du'a tadi bagi Abdullah bin Abbas sebagai saudara sepupunya itu ..., dan ketika itu ia mengertilah bahwa ia diciptakan untuk ilmu dan pengetahuan.

    Sementara persiapan otaknya mendorongnya pula dengan kuat untuk menempuh jalan ini. Karena walaupun di saat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam wafat itu, usianya belum lagi lebih dari tiga belas tahun, tetapi sedari kecilnya tak pernah satu hari pun lewat, tanpa ia menghadiri majlis Rasulullah dan menghafalkan apa yang diucapkannya....

    Dan setelah kepergian Rasulullah ke Rafiqul A'la, Ibnu Abbas mempelajari sungguh-sungguh dari shahabat-shahabat Rasul yang pertama, apa-apa yang input didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah saw. sendiri. Suatu tanda tanya (ingin mengetahui dan ingin bertanya) terpatri dalam dirinya.

    Maka setiap kedengaran olehnya seseorang yang mengetahui suatn ilmu atau menghafaikan Hadits, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang encer lagi tidak mau puas itu, mendorongnya nntuk meneliti apa yang didengarnya. Hingga tidak saja ia menumpahkan perhatian terhadap mengumpulkan ilmu pengetahuan semata, tapi jnga untuk meneliti dan menyelidiki sumber-sumbernya.

    Pernah ia menceritakan pengalamannya: -- "Pernah aku bertanya kepada tigapuluh orang shahabat Rasul shallallahu alaihi wasalam mengenai satu masalah". Dan bagaimana keinginannya yang amat besar untuk mendapatkan sesuatu ilmu, digambarkannya kepada kita sebagai berikut: -

    "Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wasalam wafat, kakatakan kepada salah seorang pemuda Anshar: "Marilah kita bertanya kepada shahabat Rasulullah, sekarang ini mereka hampir semuanya sedang bekumpul?"


    Jawab pemuda Anshar itu:"Aneh sekali kamu ini, hai Ibnu Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka sebagai kan lihat banyak terdapat shahabat Rasulullah ... ?" Demikianlah ia tak mau diajak, tetapi aku tetap pergi bertanya kepada shahabat-shahabat Rasulullah.

    Pernah aku mendapatkan satu Hadits dari seseorang, dengan cara kudatangi rumahnya kebetulan ia sedang tidur slang. Kubentangkan kainku di muka pintunya, lalu duduk menunggu, sementara angin menerbangkan debu kepadaku, sampai akhirnya ia bangun dan keluar mendapatiku. Maka katanya: -- "Hai saudara sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa tidak kamu suruh saja orang kepadaku agar aku datang kepadamu?" "Tidak!" ujarku, "bahkan akulah yang harus datang mengunjungi anda! Kemudian kutanyakanlah kepadanya sebuah Hadits dan aku belajar daripadanya ... !"

    Demikianlah pemuda kita yang agung ini bertanya, kemudian bertanya dan bertanya lagi, lalu dicarinya jawaban dengan teliti, dan dikajinya dengan seksama dan dianalisanya dengan fikiran yang berlian. Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya berkembang dan tumbuh, hingga dalam usianya yang muda belia telah cukup dimilikinya hikmat dari orang-orang tua, dan disadapnya ketenangan dan kebersihan pikiran mereka, sampai-sampai Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab radhiallahu anhu menjadikannya kawan bermusyawarah pada setiap urusan penting dan menggelarkannya "pemuda tua" ... !

    Pada suatu hari ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:"Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini ... ?"

    Jawabnya: -"Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berfikir... !"
    Maka dengan lidahnya yang selalu bertanya dan fikirannya yang tak jemu-jemunya meneliti, serta dengan kerendahan hati dan pandainya bergaul, jadilah Ibnu Abbas sebagai "kyahi ummat ini".

    Sa'ad bin Abi Waqqash melukiskannya dengan kalimat-kalimat seperti ini :-

    "Tak seorang pun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berfikir dan lebih banyak dapat menyerap ilmu dan lebih luas sifat santunnya dari Ibnu Abbas ... ! Dan sungguh, kulihat Umar memanggilnya dalam urusan-urusan pelik, padahal sekelilingnya terdapat peserta Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka tampillah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar pun tak hendak melampaui apa katanya!"


    Ketika membicarakannya, Ubaidillah bin 'Utbah berkata:-"Tidak seorang pun yang lebih tahu tentang Hadits yang diterimanya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam daripada Ibnu Abbas... !

    Dan tak kulihat orang yang lebih mengetahui tentang putusan Abu Bakar, Umar dan Utsman dalam pengadilan daripadanya ... ! Begitu pula tak ada yang lebih mendalam pengertiannya daripadanya ....

    Sungguh, ia telah menyediakan waktu untuk mengajarkan fiqih satu hari, tafsir satu hari, riwayat dan strategi perang satu hari, syair satu hari, dan tarikh serta kebudayaan bangsa Arab satu hari ....

    Serta tak ada yang lebih tahu tentang syair, bahasa Arab, tafsir -Quran, ilmu hisab dan seal pembagian pusaka daripadanya ... ! Dan tidak seorang alim pun yang pergi duduk ke dekatnya kecuali hormat kepadanya, serta tidak seorang pun yang bertanya, kecuali mendapatkan jawaban daripadanya... !"

    Seorang Muslim penduduk Bashrah melukiskannya pula sebagai berikut: -- (Ibnu Abbas pernah menjadi gubernur di sana, diangkat oleh Ali)

    "Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara ....
    1. Menarik hati pendengar apabila ia berbicara.
    2. Memperhatikan setiap ucapan pembicara.
    3. Memilih yang teringan apabila memutuskan perkara.
    1. Menjauhi sifat mengambil muka.
    2. Menjauhi orang-orang yang rendah budi.
    3. Menjauhi setiap perbuatan dosa.

    Sebagaimana kita telah paparkan bahwa Ibnu Abbas adalah orang yang menguasai dan mendalami berbagai cabang ilmu. Maka ia pun menjadi tepatan bagi orang-orang pang mencari ilmu, berbondong-bondong orang datang dari berbagai penjuru negeri Islam untuk mengikuti pendidikan dan mendalami ilmu pengetahuan. Di samping ingatannya yang kuat bahkan luar biasa itu, Ibnu Abbas memiliki pula kecerdasan dan kepintaran yang Istimewa.

    Alasan yang dikemukakannya bagaikan cahaya matahari, menembus ke dalam kalbu menghidupkan cahaya iman ....Dan dalam percakapan atau berdialog, tidak saja ia membuat lawannya terdiam, mengerti dan menerima alasan yang dikemukakannya, tetapi juga menyebabkannya diam terpesona, karena manisnya susunan kata dan keahliannya berbicara ... !

    Dan bagaimana pun juga banyaknya ilmu dan tepatnya alasan tetapi diskusi atau tukar fikiran itu ... ! Baginya tidak lain hanyalah sebagai suatu slat yang paring ampuh untuk mendapatkan dan mengetahui kebenaran ... !

    Dan memang, telah lama ia ditabuti oleh Kaum Khawarij karena logikanya yang tepat dan tajam! Pada suatu hari ia diutus oleh Imam Ali kepada sekelompok besar dari mereka. Maka terjadilah di antaranya dengan mereka percakapan yang amat mempesona, di mana Ibnu Abbas mengarahkan pembicaraan serta menyodorkan alasan dengan cara yang menakjubkan. Dari percakapan yang panjang itu, kita cukup mengutip cupIikan di bawah ini: -

    Tanya Ibnu Abbas: -- "Hal-hal apakah yang menyebabkan tuan-tuan menaruh dendam terhadap Ali ... ?"

    Ujar mereka: -"Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya: -

    Pertama dalam Agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman: '"Tak ada hukum kecuali bagi Allah ... !')

    Kedua, ia berperang, tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaliknya bila mereka orang-orang beriman maka haramlah darahnya ... !)

    Dan ketiga, waktu bertahkim, ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu'minin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Maka jika ia sudah tidak jadi amir atau kepala bagi orang-orang Mu'min lagi, berarti ia menjadi kepala bagi orang-orang kafir... !"3)

    Lamunan-lamunan mereka itu dipatahkan oleh Ibnu Abbas, katanya: -- "Mengenai perkataan tuan-tuan bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam Agama Allah, maka apa salahnya ... ?

    Bukankah Allah telah berfirman:

    "Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian membunuh binatang buruan, sewaktu kalian dalam ihram! Barang siapa di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak yang sebanding dengan hewan yang dibunuhnya itu, yang untuk menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian sebagai hakimnya ... !" (Q.S. 5 al-hlaidah: 95)

    Nah, atas nama Allah cobalah jawab: "Manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum Muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham ... ?"

    Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan tuntas itu. Kemudian "kyai ummat" melanjutkan bantahannya: -

    "Tentang ucapan tuan-tuan bahwa ia perang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil Aisyah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan Ummul Mu'minin itu sebagai tawanan, dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan ... ?"

    Di sini wajah orang-orang itu jadi merah padam karena malu, lain menutupi muka mereka dengan tangan ...,sementara Ibnu Abbas beralih kepada soal yang ketiga katanya: -

    "Adapun ucapan tuan-tuan bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu'minin dari dirinya sampai selesainya tahkim, maka dengarlah oleh tuan-tuan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam di hari Hudaibiyah, yakni ketika ia mengimlakkan surat perjanjian yang telah tercapai antaranya dengan orang-orang Quraisy. Katanya kepada penuiis: "Tulislah: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah ... ". Tiba-tiba utusan Qnraisy menyela: 'Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai Rasulullah, tentulah kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak pula akan memerangimu ... !
    Maka tulislah: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah ... !"Kata Rasulullah kepada mereka: "Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tak hendak mengakuinya…"

    Lalu kepada penulis surat perjanjian itu diperintahkannya:"Tulislah apa yang mereka kehendaki! Tulis: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah ... !"

    Demikianlah, dengan cara yang menarik( dan menakjubkan ini, berlangsung soal jawab antara Ibnu Abbas dan golongan Khawarij, hingga belum lagi tukar fikiran itu selesai, duapuluh ribu orang di antara mereka bangkit serentak, menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi Imam Ali... !

    Ibnu Abbas tidak saja memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan semata, tapi di samping itu ia memiliki pula kekayaan yang lebih besar lagi, yakni etika ilmu serta akhlak para ulama. Dalam kedermawanan dan sifat pemurahnya, Ia bagaikan Imam dengan,panji-panjinya. Dilimpah-ruahkannya harta bendanya kepada manusia, persis sebagaimana ia melimpah ruahkan ilmunya kepada mereka....

    Orang-orang yang sesama dengannya, pernah menceritakan dirinya sebagai berikut: -- "Tidak sebuah rumah pun kita temui yang lebih banyak makanan, minuman buah-buahan, begitupun ilmu pengetahuannya dari rumah Ibnu Abbas ... !"

    Di samping itu ia seorang yang berhati suci dan berjiwa bersih, tidak menaruh dendam atau kebencian kepada siapa juga.

    Keinginannya yang tak pernah menjadi kenyang, ialah harapannya agar setiap orang, baik yang dikenalnya atau tidak, beroleh kebaikan...!

    Katanya mengenai dirinya: -"Setiap aku mengetahui suatu ayat dari kitabullah, aku berharap kiranya semua manusia mengetahui seperti apa yang kuketahui itu ... ! Dan setiap aku mendengar seorang hakim di antara hakim-hakim Islam melaksanakan keadilan dan memutus sesuatu perkara dengan adil, maka aku merasa gembira dan turut mendu'akannya ..., padahal tak ada hubungan perkara antaraku dengannya ... ! Dan setiap aku mendengar turunnya hujan yang menimpa bumi Muslimin, aku merasa berbahagia, padahal tidak seekor pun binatang ternakku yang digembalakan di bumi tersebut...!"

    Ia seorang ahli ibadah yang tekun beribadat dan rajin bertaubat ..., sering bangun di tengah malam dan shaum di waktu siang, dan seolah-olah kedua matanya telah hafal akan jalan yang dilalui oleh air matanya di kedua pipinya, karena seringnya ia menangis, balk di kala ia shalat maupun sewaktu membaca alquran ....Dan ketika ia membaca ayat-ayat alquran yang memuat berita duka atau ancaman, apalagi mengenai maut dan saat dibangkitkan, maka isaknya bertambah keras dan sedu sedannya menjadi-jadi ... !

    Di samping semua itu, ia juga seorang yang berani, berfikiran sehat dan teguh memegang amanat ... ! Dalam perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah, ia mempunyai beberapa pendapat yang menunjukban tingginya kecerdasan dan banyaknya akal serta siasatnya .... Ia lebih mementingkan perdamaian dari peperangan, lebih banyak berusaha dengan jalan lemah lembut daripada kekerasan, dan menggunahan fikiran daripada paksaan...!

    Tatkala Husein radhiallahu anhu bermaksud hendak pergi ke Irak untuk memerangi Ziad dan Yazid, Ibnu Abbas menasehati Husein, memegang tangannya dan berusaha sekuat daya untuk menghalanginya. Dan tatkala ia mendengar kematiannya, ia amat terpukul, dan tidak keluar-keluar rumah karena amat dukanya.

    Dan di setiap pertentangan yang timbul antara Muslim dengan Muslim tak ada yang dilakukan oleh Ibnu Abbas, selain mengacungkan bendera perdamaian, beriunak lembut dan melenyapkan kesalah-pahaman

    Benar ia ikut tejun dalam peperangan di pihak Imam Ali terhadap Mu'awiyah, tetapi hal itu dilakukannya, tiada lain hanyalah sebagai tamparan keras yang wajib dilakukan terhadap penggerak perpecahan yang mengancam keutuhan Agama dan kesatuan ummat... !

    Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, dipenuhi dunianya dengan ilmu dan hikmat, dan disebarkan di antara ummat buah nasehat dan ketaqwaannya - · · · Dan pada usianya yang ketujuhpuluh satu tahun, ia terpanggil untuk menemui Tuhannya Yang Maha Agung · - · · Maka kota Thaif pun menyaksikan perarakan besar, di mana seorang Mu'min diiringkan menuju surganya.

    Dan tatkala tubuh kasamya mendapatkan tempat yang aman dalam kuburnya, angkasa bagai berguncang disebabkan gema janji Allah yang haq:

    "Wahai jiwa yang aman tenteram! Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Maka masuklah ke dalam lingkungan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surgaKu.

    more
  • Gelora Rindu
    Syeikh Abul Qosim Al-Qusyairy
    “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (Q.s. Al-Ankabut: 5)
    Atha’ bin as-Sa’ib menuturkan bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, “Suatu ketika Ammar bin Yasir mengimami kami shalat dan dia mempercepatnya. Aku berkata, Anda tergesa-gesa dalam mengimami shalat, wahai Abul Yaqzan.’ Dia menjawab, ‘Hal itu tidak ada salahnya, karena aku memanjatkan kepada Allah sebuah doa yang pernah kudengar dari Rasulullah Saw’, Ketika hendak beranjak, salah seorang jamaah mengikutinya dan bertanya kepadanya tentang doa yang dibacanya itu. Dia pun mengulanginya, ‘Ya Allah, dengan ilmu­-Mu yang ghaib dan dengan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku jika Engkau tahu bahwa hidup itu membawa kebaikan untukku, dan matikanlah aku jika Engkau tahu bahwa mati itu membawa kebaikan untukku. Ya Allah aku meminta kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam semua perkara, baik yang nyata maupun yang ghaib. Aku memohon kepada-Mu ungkapan yang benar ketika aku senang maupun ketika aku marah. Aku mohon kepada-Mu kesederhanaan dalam kekayaan maupun kemiskinan. Aku mohon kepada-Mu kesenangan yang abadi, dan kesejukan jiwa yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu keridhaan dengan apa yang telah ditentukan. Dan aku mohon kepada-Mu kehidupan yang sejuk sesudah mati. Aku memohon agar bisa melihat Wajah-Mu yang Mulia, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa bahaya yang mengancam, atau menjadi korban fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman. Ya Alah, jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk maupun penerima petunjuk’.”Rindu adalah keadaan gairah hati yang berharap untuk berjumpa dengan Sang Kekasih. Kadar rindu tergantung besar volume cinta. Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq membedakan antara rindu dan hasrat yang bergolak, katanya, “Rindu ditentramkan oleh perjumpaan dan memandang. Sedangkan hasrat yang bergolak tidak sirna karena pertemuan.”Mengenai konteks ini para Sufi bersyair:Mata tak pernah berpaling ketika memandang-Nya, Sehingga-kembali kepada-Nya, penuh gelora.An-Nashr Abadzy menyatakan, “Semua orang mempunyai tahap kerinduan. Namun tidak semuanya mengalami tahap gelora, dan siapa yang memasuki gelora itu, justru akan linglung, sehingga ia tidak dipandang lagi pengaruh atau kesan dan keteguhan.”Diceritakan bahwa Ahmad bin Hamid al-Aswad datang kepada Abdullah ibnul Mubarak dan berkata kepadanya, “Aku bermimpi engkau akan meninggal setahun lagi. Barangkali engkau harus bersiap-­siap untuk keluar dari dunia.” Abdullah ibnul Mubarak menjawab, “Engkau memberiku waktu yang lama, aku hidup sampai setahun penuh! Padahal aku selalu menyukai syair yang kudengar dari Abu Ali ats-Tsaqafy:Wahai yang tercekam rindu karena perpisahan panjang Bersabarlah, siapa tahu esok engkau bertemu SangKekasih.Abu Utsman menuturkan, “Tanda rindu adalah mencintai kematian dengan hati yang ringan.”Yahya bin Mu’adz menyatakan, “Tanda rindu adalah membebaskan tubuh dari hawa nafsu.”Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Pada suatu hari Daud as. pergi sendirian ke padang pasir, kemudian Allah Swt. menurunkan wahyu kepadanya, ‘Wahai Daud, Aku tidak memandangmu sebagai orang yang sendirian!’ Daud menjawab, ‘Tuhanku, aku terpengaruh oleh kerinduan dalam hatiku untuk bertemu dengan-Mu, lantas terhalang antara diriku untuk bergaul dengan sesama manusia.’ Maka Allah Swt berfirman: “Kembalilah kepada mereka. Sebab bila engkau mendatangi­-Ku bersama seorang hamba yang lari dari tuannya, Aku tetapkan dirimu di Lauh Mahfudz sebagai seorang arif yang bijak".
    Diceritakan, ada seorang wanita tua yang didatangi oleh pemuda yang termasuk kerabatnya. Keluarga lainnya merasa gembira, namun wanita itu justru menangis tersedu. Ia ditanya, ‘Apa yang engkau tangisi?” Wanita itu menjawab, “Aku teringat kedatangan pemuda itu, jika kelak di hari kedatangan kita kepada Allah Swt.”Ketika Ahmad bin Atha’ ditanya tentang rindu, dia menjawab, “Jiwa yang terbakar, qalbu yang berkobar, dan jantung yang berkeping-keping.”Pada kesempatan lain dia ditanya, “Manakah yang lebih utama, rindu ataukah cinta?” Ibnu Atha’ menjawab, “Cinta, karena rindu terlahir dari cinta.”

    more
  • TUHAN BERKEPALA BESAR



    Suasana xampus yang selama xurang-lebih tiga minggu tampax hening, sexarang tampax ramai xembali. Pasalnya selama tiga mingga yg baru saja lewat itu semua mahasiswa pada sibux menggeluti buxu-buxu muqorror yang begitu numpux dan membixin xepala jadi pusing tujuh xeliling xarena ternyata di perxuliahan yg xelasnya sudah level internasional ini xebanyaxan dosennya masih suxa mengharapxan jawaban text boox. Sebuah metode pengajaran yang tidak layak dipakai untuk mengajar tingkat perguruan tinggi. Sebuah metode klasik yang di Indonesia banyak dipakai di tingkatan SD. Padahal ini sudah di tingxatan perguruan tinggi apalagi level internasional.

    Hal tersebut membuat para mahasiswa harus mempunyai kekuatan extra dalam memeras otaxnya hingga xeluar xeringat. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, dari pagi-siang-sore-malam, merexa harus membolax-balix buxu muqorrornya yg belum bisa merexa xetahui mana di antara maudhu' yg ada yang diperxiraxan axan xeluar di ujian. Banyax di antara merexa yang jatuh saxit selepas ujian. Pasalnya pada tengah-tengah ujian merexa jarang tidur malam. Maxanpun xadang terlupaxan demi mencapai target nilai yang canangxan. Perihal ujian memang sangat besar pengaruhnya dalam merubah suasana xampus selama tiga minggu xemarin. Bahxan ada d antara merexa yang sampai seolah-olah tidax mengenal teman sexelilngnya. Pasalnya sampai jalan xeluar bilixpun otax merexa disibuxxan dengan hafalan-hafalannya, hingga saat teman lewat pun tidax sempat saling tegur-sapa. Benar-benar suasana xampus berubah saat itu.

    Ada salah seorang mahasiswa Indonesia yang suxa iseng buat tulisan sajax Arab dengan menggunaxan gaya iqtibas (tiruan gaya tulis) dari al Qur'an tentang imtihan. Dia menggambarxan mahasiswa yang tengah menghadapi ujian –lebih-lebih merexa yang tengah dudux di tahun dua dan tahun empat- seperti halnya seorang prajurit yang hendax bertempur xe medan perang. Ia harus menyiapxan semua persenjataan yg dipunyai sebelum benar-benar berada dalam medan peperangan. Begini bunyi sajax Arab itu …….


    الامتحانُ

    و ما أدراك ما الامتحانْ ...؟

    يوم يكون النّاسُ كالفرسانْ

    يستعدّون لمعركة في الميدانْ

    و يكون المرءُ ناسيا من الإخوانْ

    فمَن كثـُر جهدُه فنجاحُه على الضّمانْ

    و يكون به مسرورا و فرحانْ

    و مَن تكاسلَ فيه فقد يكون به خسرانْ

    و يختفي من فؤاده الاطمئنانْ
    فيصبح به حَيْرانْ

    فطُوْبى لِمَن بذل جُهْدَه للامتحانْ

    و خُسْرى لِمَن يقابلُ الامتحانَ كسلانْ


    Imtihan …

    Tahukah kamu apa itu imtihan …?

    (Adalah) suatu hari (di mana) orang-orang seperti (kondisi) prajurit peperangan …

    Mereka menyiapakan diri (untuk berangkat) perang ke medan peperangan …

    Dan (saat itu) seseorang akan terlupakan dari kawan …

    Lantas siapa saja yang benar-benar bersemangat, kelulusannya dalam tanggungan …

    Dan dengannya ia akan senang penuh kebahagiaan …

    Namun, siapa saja yang bermalas-malasan dalam ujian, ia kan tertimpa kerugian …

    Dan hatinya tidak lagi diliputi ketenangan …

    Lantas ia kan semakin kebingungan …

    Maka, benar-benar beruntung bagi dia yang telah mengerahkan semangat demi imtihan …

    Dan benar-benar merugi bagi yang bermalas-malasan dalam menghadapi imtihan …
    Demikianlah mahasiswa tadi mencoba menggoreskan tinta dalam penggambaran suasana imtihan di kampus Kuliah Dakwah Islamiah (KDI) tempat ia mengarungi dunia keilmuannya.

    Tidak beda dari mahasiswa lainnya, sang penulis sajak imtihan itupun mengalami situasa yang sama. Namun bedanya, sebulan sebelum imtihan ia telah berusaha meresum semua mata kuliahnya yang ada 13 itu selama satu tahun ini. Hingga hanya dia yang terlihat lebih santai di saat ujian tiba dibanding mahasiswa-mahasiswa lainnya.

    Hari-hari dalam ujian yang memakan waktu kurang-lebih selama tiga minggu dapat ia lalui dengan santai dan tanpa ada hambatan yang berarti. Hari pertama untuk mata kulia Ekonomi Islam yang ia anggap baru bagi dirinya pun dapat dikerjakan dengan penuh ketenangan dan santai. Begitu juga hari kedua dan seterusnya sampai hari terahir dapat ia lalui dengan lancer. Walaupun di sana ada beberapa kerikil-kerikil kecil yang melintas dalam menjawab ujian, ia tetap tampak tenang karena kerikil-kerikil itu tidak akan berpengaruh besar pada hasil ujiannya nanti.

    Ada pengalaman yang menarik dan ia anggap lucu saat melewati hari-hari ujian itu. Pada hari Ahad, minggu kedua dari jadwal ujian, ia ada ujian mata kuliah Perbandingan Agama. Mata kuliah ini sebenarnya telah ia mulai setahun sebelumnya. Namun, ia belum mersa puas dengan apa yang didapatkan dari mata kuliah ini. Pasalnya mata kuliah ini ternyata tidak jauh beda dengan mata kuliah Aqidah Islamiah. Buku acuannya saja untuk dua mata kuliah tadi sama-sama menggunakan "Al Aqidah bain al Wahyi wa al Ilm wa al Falsafah", salah satu karya seorang Profesor yang baru saja wafat beberapa bulan yang lalu.
    Baru tahun sekarang (tahun empat; tahun ahir), dosen pengajar mata kuliah Perbandingan Agama menyodorkan buku lain yang berjudul "Al Asfar al Muqaddasah". Namun, buku ini pun tidak jauh beda dari buku yang ia pelajari setahun sebelemunya. Hanya saja bedanya adalah buku "Al Aqidah" tadi lebih banyak mempelajari aqidah dalam Islam dan perpecahan pengikutnya dan menyinggung sedikit aqidah yang terdapat dalam "Al Ktab" atau "Bibel" yang dijadikan rujukan oleh orang-orang Yahudi dan Kristiani dalam aqidahnya. Sedangkan buku "Al Asfar" tadi lebih banyak mengupas kepalsuan kandungan "Al Kitab" dan sedikit menyinggung beberapa persamaam dan perbedaan antara aqidah "Al Kitab" dan aqidah "Al Qur'an". Hingga pada tahun ini, sang penulis sajak Arab tadi hanya mempelajari aqidah-aqidah yang ada dalam "Al Kitab" tadi, kususnya yang terdapat dalam kitab "Taurat" dan anak turunnya (Talmud). Sebuah kitab suci bagi bangsa Yahudi.

    Nah, dalam mempelajari ulang mata kuliah inilah, ia mendapatkan suatu hal yang lucu dalam aqidah mereka. Bagaimana tidak? Pasalnya dalam buku yang ia baca itu (Al Asfar al Muqaddasah) mengatakan : disebutkan dalam buku kejadian lama bahwa "Allah mempunyai beberapa anak laki-laki yang gagah perkasa. Lantas mereka memperhatikan kehidupan penghuni bumi. Saat itu mereka pada terpesona oleh kecantikan wanita-wanita pribumi. Ahirnya mereka minta ijin bapaknya (Allah) untuk turun ke bumi guna mengawini wanita-wanita cantik bumi yang mereka. Mereka pun ahirnya kawin dengan wanita-wanita tadi dan dikarunia keturunan yang rupawan semua. Mereka adalah para Raja Diktator yang hidup sebelum masa "banjir topan" Nabi Nuh as. Bagaimana mungkin Tuhan beranak-pinak seperti manusia? Jika demikian, pantaskah ia disembah?

    Paragraf berikutnya menceritakan bahwa "tiga sosok yang datang pada Nabi Ibrahim as dalam kisah pembasmian negeri "Sodom" dan "Gemara" adalah dua Malaikat dan Allah. Kemudian mereka disuguhi hidangan istimewa oleh Nabi Ibrahim as dengan memberikan panggangan anak sapi yang renyah dan sedap disantap. Kemudian mereka bertiga (termasuk Allah) makan hidangan tersebut di bawah sebuah pohon dekat perkemahan Nabi Ibrahim as. Kemudian Allah memberkainya dengan berjanji akan memberikan keturunan yang mulia lewat isterinya (Sarah) pada tahun berikutnya di hari yang sama". Bagaimana Tuhan akan mampu memberi makan hambanya jika ia sendiri masih membutuhkan makanan? Pantaskah ia ditaati?

    Paragraph selanjutnya berkata bahwa "suatu malam Nabi Ya'qub as bertemu dengan Allah (Yahudi). Mereka berdua lantas mendsikusikan suatu perkara hingga fajar datang. Selama berdiskusi Allah tidak mampu mengalahkan Ya'kub as. Ahirnya ia memukul paha Ya'kub yang kemudian membuat pahanya tersingkap terlihat oleh mata. Karena merasa kejenuhannya telah sampai pada puncaknya dan ajarpun telah terbit, Allah minta ke Nabi Ya'kub untuk menghentikan diskusinya dan membiarkan Allah pulang kembali ke rumahnya. Namun, Ya'qub tidak mengijinkan Ia pulang sebelum Ia memberkahi Ya'qub. Allah pun menerima syarat itu dan memberkahi Ya'qub. Kemudian Allah bertanya pada Ya'qub, siapa namamu? Dijawab: namaku Ya'qub. Kemudian Allah berkata padanya: mulai sekarang kamu tidak akan pernah dipanggil Ya'qub, tetapi namamu sekarang adalah Isra'l, karena kamu pernah mengalahkan Allah dalam suatu diskusi. Kemudian Allah kembali pulang ke langit".
    Kalau Allah mau diajak diskusi oleh manusia dan apalagi sempat kalah dalam diskusinya itu, berarti manusia tadi lebih pandai dan lebih hebat dari Allah. Kalau demikian kenapa tidak menyembah manusia tadi? Sungguh bodoh mereka yang menyembah Allah seperti gambaran di atas.

    Seorang pemikir Muslim, Ibn Hazm pernah menyitir kandungan kitab "Talmud", chapter "Tomas" dalam karyanya yang berjudul "Al Fashl fi al Milal wa al Hawa' wa al Nihal" bahwa "Tuhan Sang Pencipta mereka itu berdahi lebar dan berkepala besar. Jarak dari rambut sampai hidungnya berukuran 2.500 meter. Di kepalanya terdapat mahkota yang terbuat dari emas dan di jemarinya terdapat cincin yang menjadi sumber cahaya bagi matahari dan bintang-bintang di langit".

    Kalau dicermati dengan seksama tuhan mereka (orang Yahudi) itu menggambarkan kekayaan materialistik, kekayaan duniawi. Hal itu mungkin bias dilihat dalam faktanya. Di mana mereka cenderung mengadakan intervensi ke daerah-daerah terlarang bagi mereka (karena bukan haknya) kebanyakan dilatar-belakangi kepentingan ekonomi dan material.

    Dalam chapter lain dari Talmud disebutkan bahwa "Allah membagi waktunya di siang hari menjadi empat bagian. Tiga jam pertama ia gunakan untuk mempelajari syariatnya. Tiga jam kedua untuk mengatur ketetapan hukum antar sesame manusia. Tiga jam ketiga untuk mengatur kehidup semua makhluq dan tiga jam keempat ia gunaakn untuk bermain dengan ikan "khut" (sejenis ikan paus), seekor ikan yang sangat besar sekali, rongga tenggorokannya bias menampung semua ikan yang ada di alam raya. Adapun di malam hari, ia gunakan waktunya untuk mendiskusikan kitab Talmud (kitab suci orang yahudi) bersama para Malaikat dan raja syetan yang bertempat di langit kediaman Allah. Demikian Allah membagidan mengatur waktunya setiap hari.

    Namun, aturan itu menjadi berubah setelah Allah merealisasikan taqdirnya atas peristwia hancurnya "Haikal Sulaiman" dan terusirnya bangsa Yahudi dari negerinya. Setelah peristiwa tersebut Allah menyesal dan mengaku bersalah. Tidak semestinya ia menaqdirkan hancurnya "Haikal Sulaiman" dan terusirnya Yahudi dari negerinya. Lantas ia memberikan 3/4 waktunya di malam hari untuk menangis dan menyesali perbuatannya yang telah mentaqdirkan peristiwa tersebut di atas. Jika ia sedang menangis meneteskan dua tetes air matanya ke laut. Suaranya tetesan air mata it didengar oler semua penghuni alam raya. Saat itu terjadilah getaran yang dahsyat di laut dan bumi hingga terjadi gempa bumi dan tsunami. Dan di tengah-tengah tangisannya tu, Allah menyatakan penyesalannya seraya berkata: "Celaka bagiku yang telah menurunkan mandate untuk menghancurkan rumahku sendiri dengan membakar Haikal Sulaiman dan mengusir anak-anakku (Bani Isra'il) dari rumahnya".

    Kalau dicermati, sekilas tergambar bahwa Allah tuhan orang Yahudi itu masih bodoh. Terbukti ia masih perlu mempelajari syariatnya untuk makhluq, bahkan pernah kalah dalam diskusinya dengan Nabi Ya'qub. Lucunya, Allah Yahudi masih butuh bermain dengan ikan di laut. Ia butuh istirahat dan refreshing layaknya pekerja kantor yang membagi jam kerjannya menjadi empat waktu. Bagaimana mungkin Tuhan yang harus disembah dan ditaati, digambarkan oleh kitab Talmud seperti tersebut di atas? Pantas Tuhan seperti itu disembah? Seolah-olah itu hanyalah gambaran dari takhayul mereka yang mengharapkan kekayaan alam semesta akan berada dalam genggaman tangannya. Kenapa masyarakat awam mereka mau dibodohi oleh para rahibnya?

    more