• Toleransi Dalam Islam
    TOLERANSI DALAM ISLAM
    Ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan, yaitu oleh-oleh dari perjalanan saya ke luar negeri. Saya sudah berpuluh-puluh kali pergi ke luar negeri, akan tetapi maknanya tidak sebobot perjalanan kali ini. Di sini ada penglihatan, pemikiran, dan pengalaman yang sangat berharga untuk kita telaah dalam posisi kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 28 Januari 2007, saya dari Jakarta menuju London, di sana bertemu Menlu dan Direktur British Counseling. Bertujuh saya ke sana untuk mempromosikan Islam yang wasathin (moderat) atau yang terkenal dengan istilah Rahmatan lil 'Alamin, karena itu yang otentik di dalam Al-Qur'an. Adapun yang dimaksud dengan sikap moderat (wasathiyah) adalah: Keseimbangan antara keyakinan yang kokoh dengan spase toleransiToleransi ada dua macam: 1.Toleransi intern umat Islam. Tolerasi ini yang biasa kita sebut (bagi kamu amalan kami dan bagi kalian amalan kalian). Misalnya; Ada yang shalat shubuh dengan membaca qunut dan ada yang tidak. Semua itu adalah alternatif. Dulu, para pemimpin Muhammadiyah dan NU itu tidak meributkan masalah qunut karena sama-sama ngerti, misalnya pada zaman Pak Idham dan Pak Buya Hamka. Sekarang, anak-anak Nu dan Muhammadiyah juga tidak ribut soal qunut karena sudah tidak shalat shubuh, berarti qunutnya lewat. Ini adalah tasamuh (toleransi) di antara muslimin. selama tidak ada inhiraf (keluar dari batas syari'at). Tasamuh bisa diartikan mau memegangi pendapat sendiri, akan tetapi mau mengerti pendapat saudaranya sesama muslim. Jadi, jangan memonopoli kebenaran, kecuali yang bersifat qath'iy. Kalau masih bersifat dzanny, yaitu sesuatu yang termasuk daerah pemikiran dan daerah ijtihad, maka harus ada keseimbangan di antara ilmu dan toleransi. 2. Toleransi umat Islam dengan Non muslim. Kenapa harus ada toleransi terhadap non muslim?, karena di dalam Islam itu kalau diibaratkan rumah, di sana ada teras yang bisa dipakai untuk mengerti non-muslim. Mengerti bukan berarti setuju. Kalaupun kita memaksa umat Kristen untuk masuk Islam, itu sia-sia saja, karena Islamnya tidak sah. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah : 256Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.Surat Al-Qashshash : 56Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.Yang bisa kita lakukan adalah berdakwah kepada mereka sebisa-bisanya. Adapun mereka mau menerima atau tidak, semua itu adalah urusan Allah SWT. Bagian kedua yang akan saya bahas adalah tentang sunnatullah yang bergerak lintas batas. Sunnatullah ini bukan terbatas pada Islam saja, akan tetapi berlaku lintas batas. Bahkan sunnatullah ini bukan hanya berlaku untuk muslim dan non muslim, namun juga berlaku untuk semua manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Contoh sunnatullah: Orang kristen yang sekolah di fakultas kedokteran, bisa menjadi seorang dokter. Sedangkan orang NU yang tidak sekolah di fakultas kedokteran, menjadi dukun saja sudah Alhamdulillah. Artinya sunnatullah ini berjalan pada sifat Rahman, tidak pada sifat Rahim. Di dalam suatu Hadits, Rasulullah bersabda: Kalimat Hikmah itu adalah barang orang mukmin yang hilang, dimanapun dia menemukannya, dia lebih berhak untuk memilikinya. (Hadits Gharib dalam Kitab Sunan At-Tirmidzi)Hikmah itu adalah inti ilmu. Misalnya; Inti hukum adalah keadilan, jadi hikmah hukum itu adalah keadilan. Namun kadang-kadang ilmu dan hikmah itu terpisah, misalnya; Ada law (hukum), namun tidak ada justice (keadilan). Hikmah itu milik umat Islam. Kalau hikmah iu tidak ada pada kamu, dan ada pada orang lain; berarti hikmah itu ketelesot di sana, dan ambillah hikmah itu. Jangan karena hikmah itu di berada di luar muslim, lalu kamu merasa hikmah itu milik orang kafir. Karena ilmu itu sifatnya bukan teritorial, melainkan substansial. Contoh: Ketika saya berada di Arab, kalau janji itu tidak pernah tepat. Kalau orang Arab sudah ngomong "bukrah" (besok), berarti dia tidak datang. Suatu saat saya diundang menghadiri turats (peringatan) Raja King Abdul 'Aziz. Ketika saya sudah pakai dasi, dan sudah mau berangkat; ternyata di bawah pintu kamar saya, diselobo'i sebuah pengumuman yang menyebutkan bahwa pembukaan acara turats ditunda dua hari lagi, karena ketua panitia masih berada di Prancis. Hal yang begini ini tidak bakal terjadi di Eropa!. Kalau saya punya janjian pada jam 7 pagi tepat, maka ketika jam tujuh kurang lima menit, pintu tempat perjanjian masih belum dibuka. Begitu masuk jam tujuh tepat, baru pintu itu dibuka. Artinya; ketepaan waktu itu ada di sana, tidak ada di sini. Ketepatan waktu itu Islami. Jadi, aqidah ada di sini, namun mu'amalah ada di sana. Mereka juga disiplin. Ketika ada lampu merah, warga eropa itu berhenti sak anjing-anjingya. Jadi, kalau ada orang Islam di eropa yang menerjang lampu merah, berrati dia lebih rendah dari anjing. Begini ini harus kita akui.Saya berangkat ke Inggris untuk mempromosikan Islam yang samhah (Islam yang natural), sebelum mereka tertarik oleh kepentingan kiri-kanan. Ternyata Islam yang saya bawa ini laris, karena di sana sering terjadi bentrok dan masjid dibakar, karena khatib-khatib di sana isi khutbahnya menyerang terus kepada konstitusi. Tentu Negara merasa keberatan, sehingga para Khatib itu ditangkap. Rupanya para Khatib itu tidak bisa memberi penjelasan, sehingga ngebon kita untuk memberi penjelasan. Setelah tiga hari di Inggris, tidak ada yang istimewa di sana. Di sana kami juga memberi masukan kepada negara Barat bagaimana supaya citra Islam tidak dirobek-robek seperti sekarang ini.Dari Inggris langsung menuju ke Beirut, Libanon. Saya bersama Menlu Hasan Wirayudha dan Bapak Ali Alatas. Kami bertiga berangkat ke Beirut dengan mengemban misi: * Mencari solusi penyelesaian konflik Hamas-Fatah di Palestina; * Meninjau Pasukan Garuda yang ikut menyanggah keamanan di Libanon * Mencari jalan keluar untuk mengurangi bentrok etnis dan bentrok madzhab di Iran yang sekarang sedang dikobarkan oleh Amerika, yaitu pertempuran antara Sunni dan Syi'ah. Akhirnya kami berbagi tugas. Menlu Hasan bertugas menemui pejabat-pejabat, mulai dari presiden, perdana menteri bahkan para menteri. Kalau saya pas longgar, saya ikut Menlu sebagai mustami'. Adapun tugas saya adalah menemui para ulama' yang kereng-kereng dan 'tukang perang'. Pengalaman ini adalah suatu hikmah yang besar bagi saya. Dari sana, saya menjadi tahu bahwa umat Islam sekarang ini masih jauh dari pelaksanaan agamanya sendiri, terutama dari bidang ilmu, ekonomi, persatuan, dan keadilan. Yang dekat cuma berteriak Allahu Akbar-nya saja, akan tetapi model way of life-nya tidak ada.Misi pertama yang kita urusi adalah bentrok Hamas-Fatah. Fatah ini adalah organisasi penjelmaan dari PLO (Palestinan Liberation Organization). PLO dulu dipimpin oleh Al-Maghfurlah Yasser Arafat. Kemudian PLO ini menjelma menjadi Fatah yang merupakan fraksi terbesar di Palestina. Adapun keberhasilan yang sicapai oleh Yasser Arafat adalah internasionalisasi masalah Palestina. Pada mulanya, konflik Israel-Palestina itu dianggap oleh Israel sebaga "urusan saya dengan kamu". Namun kemudian oleh Yasser Arafat diputer begitu rupa dan diworo-woro bahwa karena faktor penjajahan, Israel harus diusir dari Palestina. Kampanye ini kena (berhasil), sehingga terjadilah isolasi dunia terhadap Israel.Karena yang dilawan (Israel) ini terlalu kuat, maka Yasser Arafat mengambil jalan diplomasi, bukan jalan perang. Akhirnya dia berdiplomasi dengan Israel dan Amerika. Dasar Israel, ya percuma, mereka hanya janji-janji palsu. Ibarat air di daun keladi; sekalipun mennggenang, tidak pernah berbekas. Jalur diplomasi ini tidak pernah beres, sampai Yasser Arafat wafat. Karena garis diplomasi ini gagal sampai Yasser Arafat wafat, maka rakyat Palestina berpindah haluan ke Hamas. Hamas ini sifatnya lebih keras dan tidak ada kompromi. Yang penting perang, kalah atau menang, akhirnya mereka kalah terus. Hamas juga tidak mengakui eksistensi Israel, sedangkan kalau Fatah itu mau melakukan koo-eksistensi Israel. Jadi, bagi fatah, di situ negara Israel dan di sini negara Palestina. Adapun bagi Hamas, pokoknya Israel harus bubar. Pendapat ini sama dengan Ahmadinejad yang berkata; "Israel itu dibusek saja dari peta, karena ngaco tok kerjaannya". Oleh karena itu, Hamas selalu diberi bantuan oleh Iran secara diam-diam.Dalam konflik Israel dan Palestina, sebenarnya oleh dunia Barat, Pelestina itu disokong dan dikasih duit. Namun duit itu bukan duit sumbangan, akan tetapi duit pengembalian pajak dari warga Palestina yang ditarik pajak oleh Israel. Namun ketika Hamas menang pemilu, duit tersebut tidak diberikan kepada Hamas, melainkan dikasihkan kepada Fatah, sehinggaa terjadi eker-ekeran antara Hamas dan Fatah. Jadi, di tengah-tengah perjuangan itu selalu ada godaan-godaan duniawi. Karena Fatah merasa kalah pemilu, maka duit tadi dipakai oleh Fatah untuk benturan dengan Hamas. Akhirnya terjadilah kontak senjata antara Fatah dan Hamas. Pada akhirnya, baik Hamas maupun Fatah sama-sama kalah, sehingga yang menang adalah Israel. Sebenarnya Rasulullah SAW juga pernah kalah perang. Jangan kita bayangkan beliau itu menang terus dalam perang. Beliau pernah kalah perang pada saat Perang Uhud. Pada mulanya umat Islam menang, namun setelah merasa menang, pasukan perang yang gragas tergoda untuk mengambil harta rampasan perang, terutama wanita-wanita yang klimis-klimis. Akhirnya ketika para pasukan yang tamak ini berada pada posisi di bawah, maka posisi di atas diambil alih oleh pasukan kafir, kemudian mereka menyerang dari arah atas, sehingga pasukan Islam korat-karit. Sayyidina Hamzah gugur pada perang Uhud ini. Setelah komando dipegang lagi oleh Rasulullah SAW, umat Islam baru menang. Di sini terbukti, bahwa ketika Rasulullah SAW masih hidup saja, umat Islam akan kalah dalam perang kalau lebih berpikir duniawi, apalagi ketika beliau sudah wafat!. Nah, bagaimana caranya supaya Indonesia – saya tidak membawa nama NU, karena terlalu kecil – sedikit banyak bisa mempunyai andil dalam 'itisham bainal muslimin (persatuan di kalangan umat Islam)?. Alhamdulillah, saya bisa ketemu dengan Komando tertinggi Hamas yang masih dalam status pelarian. Komando ini ada di Damaskus, dan namanya adalah Khalid Ismail. Saya mengalami kesulitan untuk menemuniya, karena lapisan 'banser'-nya sangat banyak dan lebih gagah dari banser NU. Kalau Banser NU itu hormat tapi angop; Kalau disuruh jaga, malah ndodok; Merokok, tapi dengan rokok tapi eceran. Sedangkan 'banser'-nya Hamas ini bagus, gagah, tinggi, sigap, dan terlatih. Setelah berkali-kali melewati pos, akhirnya saya bisa bertemu Khalid.Di sana Khalid bercerita tentang betapa beratnya penderitaan bangsa Palestina yang dijajah, dibunuh, diinjak, dan semua ulama'-nya ditembaki oleh pasukan Israel. Bahkan sekarang ini, kabinet Palestina ditangkap oleh Israel, sehingga para Menteri harus mendekam di penjara Israel beserta anggota 'DPR'-nya. Untung DPR di sini selamet, sehingga bolak-balik njalok rapelan. Yang tersisa hanyalah Perdana Menteri dan Presiden. Khalid bercerita mengenai kesadisan Israel dan penderitaan yang dialami bangsa Palestina. Setelah itu, dia bercerita alasan bentrok dengan Fatah. Khalid menuduh Fatah sudah menjadi kaki-kanan Amerika. Semua dana bantuan diberikan kepada Fatah, sedangkan Hamas tidak diberi bagian. Menurut Khalid, anak buahnya banyak yang ditembaki oleh Fatah, sehingga Hamas terpaksa melawan. Selain itu, Khalid juga mengeluh kenapa bangsa Palestina kok tidak bisa bersatu dan kenapa dunia Arab kok tidak bisa bersatu untuk mendukung Palestina, mereka selalu saja ada yang pro dan kontra terhadap Amerika. Khalid juga menyatakan bahwa Dunia Internasional tidak pernah berpihak kepada Palestina, akan tetapi selalu berpihak kepada Israel. Kalau PBB berpihak kepada Palestina, lalu Israel tidak mentaatinya, namun tidak ada sanksi apapun bagi Israel. Akan tetapi kalau bangsa di luar Israel, maka seluruh dunia akan menyerang siapa yang menyalahi resolusi PBB. Setelah selesai bercerita, ganti saya yang menjawab. Saya sendiri menyebut Khalid dengan sebutan Brother atau Sayyidul Akhi. Saya berkata: "Saya sudah mendengar dan merasa simpati atas penderitaan Palestina, terutama Hamas, apalagi satu-persatu ulama' dibunuh oleh Israel. Akan tetapi hendaknya diketahui kalau Palestina itu dijajah selama 60 tahun, sedangkan Indonesia itu dijajah selama 350 tahun. Kira-kira banyak mana korbanya?". Khalid mulai terdiam. Jadi berapa banyak syuhada' dan mujahidin Indonesia yang gugur, mulai dari Perang Padri, Perang Diponegoro, sampai Si Pitung, mereka tidak bisa mengalahkan penjajah. Pangeran Diponegoro pun akhirnya kalah, dicurangi oleh Belanda. Kemudian Pangeran Diponegoro dibuang ke Makassar dan dipenjara dalam penjar berbentuk gua yang hanya cukup untuk orang jongkok, tapi tidak cukup untuk digunakan berdiri. Setelah lima tahun berada di situ, Pangeran Diponegoro wafat. Demikian juga dengan para pahlawan yang lain, mulai dari Teungku Umar, Teungku Cik Di Tiro, sampai Imam Bonjol yang juga dibuang ke Sulawesi Utara. Saya bercerita kepada Khalid: "Kami baru merdeka setelah ada persatuan Indonesia. Jadi, jihad kita adalah mempersatukan barisan. Mana yang Islam, yang Kristen, yang Nasionalis, yang Kebathinan, dsb. Seluruhnya bersatu untuk melawan Belanda, akhirnya kami memperoleh kemenangan, setelah Belanda dikalahkan oleh Jepang. itupun harus menunggu Hirosima dan Nagasaki dibom terlebih dulu oleh sekutu". Setelah mendengarkan cerita saya, Khalid terdiam. Jadi yang paling mahal dalam berjuang adalah persatuan, karena para penjajah tidak pernah takut dengan senjata, karena mereka mempunyai senjata yang lebih baik. Para penjajag itu hanya takut terhadap persatuan dan ma'unatullah. Saya lanjutkan; "Sekarang kalau Anda berseberangan dengan Fatah, berarti Anda sudah menyatakan kekalahan terhadap Israel". Pertemuan ini terjadi pada tanggal 4 Februri 2007, sedangkan pada tanggal 5 Februari 2007, Khalid harus berangkat ke Makkah untuk mengikuti perundingan. Alhamdulillah, saya ke sana tepat waktu atau muqtadhal hal. Umpama saya telat sehari saja, tentu tidak bisa menemui Khalid. Setelah itu saya mendengar bahwa di Makkah ada perundingan dan kesepakatan. Alhamdulillah ada perbedaan, sekalipun belum penyelesaian. Jadi apa yang terjadi di dalam Islam saat ini seperti yang dikatakan di dalam Al-Qur'an. Kalau umat Islam ingin menang, maka bersatulah, karena kalau bercerai berai, umat Islam pasti akan kalah. Jadi, jangan dikira kalau orang Islam itu mesti menang, meski tidak bersatu. Hal itu tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu setiap janji Allah SWT pasti bersyarat, dan setiap Rahmat Allah pasti meminta tanggung jawab. Jadi, tidak mungkin ada nashrullah (pertolongan Allah SWT) tanpa ada ittihad (persatuan) dan istiqomah. Coba cari di dalam Al-Qur'an!, pasti tidak ada. Kalau Hamas dan Fatah dengan kondisi seperti sekarang ini bisa menang, berarti Al-Qur'an itu keliru. Untuk membuktikan kalau Al-Qur'an itu benar, maka Hamas dan Fatah yang tidak bersatu ini harus kalah. By: M. Rosyidin

    more
  • Ilmu Mirats
    ILMU MIROTS
    By : Anas Mas’udi El Malawi

    Pendahuluan
    Islam adalah agama universal. Semua sisi kehidupan umatnya diatur dalam syariatnya. Mulai dari hubungannya dengan Sang Pencipta, dengan sesama, dengan makhluq hidup lainnya sampai dengan lingkungan hidupnya. Demikian itu demi tercapainya kehidupan yg sejahtera dan makmur, aman, tenteram dan sentosa.
    Dalam kitab suci al Qura’an, Islam mengelompokkan aturan kehidupan umat menjadi tiga bagian besar yg masing-masing memiliki kajian tersendiri, yaitu ibadah (interaksi dg Tuhan), mu’amalah (perniagaan) dan mu’asyarah (interaksi antar sesama makhluq dan lingkungan). Di antara pembahasan mu’amalah adalah masalah warisan. Di mana sekarang dimasukkan dalam kajian al alhwal al syakhshiyyah.

    Asas Islam Dalam Hukum Warisan
    Islam agama yg adil berada di antara dua perinsip yg terbilang ekstrim, yaitu kapitalis dan sosialis. Di mana Islam memberikan aturan kusus dalam hal kepemilikan, termasuk di dalamnya hukum waris.
    Islam menetapkan hukum waris dalam urusan keluarga dan memberikan bagian warisan pada suami dan isteri sebagaimana memberikan bagian pada kerabat mayit lainnya.
    Islam tidak memberikan bagian orang yg bukan kerabat mayit, seperti anak angkat, anak hasil dari pernikahan yg tidak sah dan anak zina. Islam juga tidak menetapkan warisan dengan cara bersumpah atau akad tertentu.
    Islam secara umum telah menetapkan bagian tertentu bagi masing-masing ahli waris yg berhak, seperti ½ (50%), ¼ (25%), 1/6 (16,67%), 1/8 (12,5%), 1/3 (33,33%) dan 2/3 (66,67%).
    Islam tidak membedakan ahli waris yg ada, baik kaya atau miskin, dewasa atau masih balita, bahkan janin yg masih dalam kandungan mendapat bagian jika dinyatakan hidup dan diberikan kepadanya saat ia sudah lahir..
    Islam memberikan bagian warisan pada perempuan. Di mana pada zaman jahilyyah dulu perempuan sama sekali tidak diberi hak waris, bahkan ia disamakan dg harta yg diwaris.

    Dasar Hukum Waris
    Hukum waris ditetapkan berdasarkan al Qur’an, hadits, ijma’ dan ijtihad sahabat. Dalil dari al Qur’an antara lain : QS. Al Nisa’ : 7-8, 11-12, 176, QS. Al Anfal : 75. Adapun dalil dari hadis : “Al Hiquu al Faroidho Bi Ahlihaa, Famaa Baqiya Fahuwa Li Aula Rajulin Dzakarin” (HR. Imam Bukhari & imam Muslim). Untuk dalil ijma’ dan ijtihad sahabat bisa dilihat dalam buku-buku tentang warisan.

    Rukun Hukum Waris
    Ialah ada tiga, yaitu :
    Mayit : Orang yg benar sudah meninggal atau orang yg bepergian jauh yg tidak bisa diketahui lagi informasi kehidupannya, hingga ditetapkan oleh hakim kalau dia sudah meninggal.
    Ahli waris : Orang yg ada hubungan kerabat dengan mayit melalui salah satu sebab dari hukum waris.
    Harta warisan : Peninggalan mayit yg bernilai harta secara syariat.

    Syarat Hukum Waris
    Ialah ada tiga, yaitu :
    Meninggalnya mayit baik secara hukum atau benar-benar meninggal.
    Hidupnya ahli waris saat meninggalnya mayit.
    Tidak adanya penghalang untuk menerima warisan.

    Sebab-Sebab Hukum Waris
    Ialah ada tiga, yaitu :
    Pernikahan: Akad nikah yg sah menurut syari’at, baik sudah melakukan HI (hubungan intim) atau belum.
    Kerabat : Keturunan mayit (lk/pr), bapak-ibu kandung, kakek-nenek, saudara-saudari kandung/sebapak/seibu dan paman-bibi dr bapak/ibu.
    Kekuasaan : kekuasaan secara hukum yg diperoleh dari membebaskan budak (hamba sahaya)

    Penghalang Hukum Waris
    Ialah ada tiga, yaitu :
    Budak : Setatus lemah secara hukum yg ada pada seseorang yg menyebabkan ia tidak bisa menerima warisan. Budak tidak berhak menerima warisan karena ia tidak punyak hak milik dan semua hartanya adalah milik tuannya.
    Membunuh : Ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Syafi’iyyah “membunuh dengan degala bentuk dan motifnya bisa menghalangi hukum waris”. Menurut madzhab Malikiyyah “ membunuh dengan sengaja bisa menghalangi hokum waris, dan membunuh tanpa sengaja tidak menghalanginya”. Menurut madzhab Hanafiyyah “membunuh yg mengharuskan hokum qishash dan bayar kaffarah bisa menghalangi hokum waris, yaitu membunuh dg sengaja atau mirip sengaja, atau tidak sengaja”. Menurut madzhab Hambaliyyah “membunuh yg mengharuskan hokum qishash, bayar kaffarah atau bayar diyat bisa menghalangi hokum waris”.
    Beda agama : Menurut madzhab Syafi’iyyah dan Hanafiyyah “semua agama selain Islam dianggap satu agama. Orang yahudi bisa mewarisi familinya Nasrani dan sebaliknya”. Menurut Malikyyah “ Islam agama tersendiri, Yahudi agama tersendiri, Nasrani agama tersendiri dan agama selain yg tersebut dianggap satu agama”. Menurut Hanbaliyyah “setiap agama yg ada di permukaan bumi ini merupakan agama tersendiri dan terpisah antara satu dengan lainnya”.

    Ahli Waris
    Ahli waris dikelompokkan menjadi dua kelomok, yaitu ahli waris dari kerabat laki-laki dan ahli waris dari kerabat perempuan. Ahli waris dari kerabat laki-laki ada 15 orang. Mereka adalah : 1. Anak kandung lk. 2.Cucu lk. 3. Bapak kandung. 4. Kakek dr bpk. 5. sdr kandung. 6. sdr sebpk. 7. Sdr seibu. 8. Anak lk dr sdr kandung. 9. Anak lk dr sdr sebpk. 10. Paman (sdr kandung bpk). 11. Paman (sdr sebpknya bpk). 12. Anak lk dr Paman (sdr kandung bpk). 13. Anak lk dr Paman (sdr sebpknya bpk). 14. Suami. 15. Mu’tiq (org lk yg membebaskan budak).
    Adapun ahli waris dari kerabat perempuan ada 10 orang, yaitu : 1. Ibu. 2. Anak kandung pr.
    3. Cucu pr dr anak lk. 4. saudari kandung. 5. Sdri sebpk. 6. Sdri seibu. 7. Nenek dr bpk. 8. Nenek dr ibu. 9. Isteri. 10. Mu’tiqah (org pr yg membebaskan budak).
    Jika semua ahli waris laki-laki berkumpul dalam satu permasalahan hokum waris, maka yg paling berhak menerima warisan adalah tiga orang, yaitu : Suami, Anak kandung lk dan bapak kandung. Jika semua ahli waris perempuan berkumpul dalam satu permasalahan hukum waris, maka yg paling berhak menerima warisan adalah lima orang, yaitu : Ibu, Isteri, Anak kandung pr, cucu pr dr anak lk dan sdri kandung. Jika semua ahli waris laki-laki dan perempuan berkumul dalam satu permasalahan hukum waris, maka yg paling berhak menerima warisan adalah lima orang, yaitu : Suami/isteri, Anak kandung lk, anak kandung pr, ibu kandung dan bapak kandung.
    Sedangkan hokum waris sendiri dalam perakteknya ada empat cara, yaitu : 1. dengan bagian pasti. 2. dg bagian ‘ashobah (sisa dr bagian pasti). 3. dg rodd (hasil pembagian kurang dr asal maslah). 4. dengan hak kekeluargaan (dzawil arham).

    Hukum Waris Dengan Bagian Pasti
    ½ : Adalah bagian lima orang, yaitu : Suami, Anak kandung lk, cucu pr dr anak lk, saudari kandung dan saudari sebapak.
    ¼ : Adalah bagian dua orang, yaitu : Suami dan Isteri.
    1/3 : Adalah bagian tiga orang, yaitu : Ibu, saudara seibu dan saudari seibu.
    1/6 : Adalah bagian delapan orang, yaitu : Bapak, Ibu, Kakek dr bpk, Nenek dr bpk/ibu, cucu dr anak lk, Saudari sebapak, Saudara seibu dan saudari seibu.
    1/8 : Adalah bagian seorang, yaitu Isteri.
    2/3 : Adalah bagian empat orang, yaitu : Anak kandung pr, cucu pr dr anak lk, saudari kandung dan saudari sebapak.

    Hukum Waris Dengan Bagian ‘Ashobah
    Sebenarnya istilah “ashobah” untuk penerima warisan atau ahli waris laki-laki. Namun dalam bahasa kita “ashobah” dialihkan artinya dari istilah bagi ahli waris menjadi istilah untuk bagian ahli waris. Adapun hukum waris dengan cara menerima ‘ashobah tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu : 1). ‘Ashobah Sababiyyah dan 2). ‘Ashobah Nasabiyyah.

    1). ‘Ashobah Sababiyyah
    Adalah bagian dari sisa warisan yg sudah dibagikan (kepada semua ahli waris yg mendapat bagian pasti) yg diperoleh dari pembebasan budak atau hamba sahaya. Ahli waris yg berhak menerima bagian ini adalah setiap orang baik laki-laki atau perempuan yg telah membebaskan budak.

    2). ‘Ashobah Nasabiyyah
    Adalah bagian dari sisa warisan yg sudah dibagikan (kepada ahli waris yg mendapat bagian pasti) yg diperoleh dari sebab kekerabatan atau kekeluargaan. ‘Ashobah Nasabiyyah ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: a. ‘Ashobah Binnafsi. b. ‘Ashobah Bilghoir. c. ‘Ashobah Ma’alghoir.
    a. ‘Ashobah Binnafsi : Bagian setiap ahli waris laki-laki yg tidak mendapat bagian pasti dengan catatan dia tidak bersama saudarinya yg setara dalam nasab/keturunan. Ahli waris yg menerima bagian tersebut adalah anak lk, cucu lk dr anak lk dst, bapak kandung, kakek dr bapak, saudara kandung, saudara sebapak, anak lk dr sdra kandung, anak lk dr sdra sebapak, anak-anak mereka (anak lk dr sdra kandung / anak lk dr sdra sebapak), paman (sdr kandung bpk), paman (sdr sebpknya bpk), anak lk dr paman (sdr kandung bpk), anak lk dr paman (sdr sebpknya bpk) dst, pamannya kakek dan mu’tiq. Nama-nama tersebut adalah nama urut secara hukum dan nama-nama yg depan bisa menghalangi nama-nama di belakangnya dalam hal menerima bagian warisan. Contoh: mayit meninggalkan suami dan anak lk.

    ahli waris bagian 4 100%
    Suami 1/4 1 25%
    Anak lk ‘asbh 3 75%
    b. ‘Ashobah Bilghoir: Bagian setiap ahli waris perempuan yg mendapat bagian pasti sebab bersama dengan saudara laki-lakinya. Ahli waris yg menerima bagian tersebut adalah anak perempuan bersama anak lk (satu org/lbh), cucu prempuan dr anak lk bersama cucu laki-laki yg setara, saudari kandung bersama saudara kandung dan saudari sebapak bersama saudari sebapak. Contoh: mayit meninggalkan Suami, anak lk dan anak pr.

    ahli waris bagian 4 4
    Suami 1/4 1 1
    Anak lk ‘ashobah 3 2
    Anak pr 'ashobah 1

    c. ‘Ashobah Ma’alghoir: Bagian setiap ahli waris perempuan yg mendapat bagian pasti sebab bersama ahli waris perempuan lainnya (tdk setara dalam nasab) yg sama-sama mendapat bagian pasti. Ahli waris untuk bagian ini adalah saudari kandung bersama keturunan mayit (pr) dan saudari sebapak bersama keturunan mayit (pr). Contoh : Mayit meninggalkan Isteri, anak pr dan saudari kandung.

    ahli waris bagian 8 100%
    Isteri 1/8 1 12,5%
    Sdri kandung ‘ashobah 3 37,5%
    Anak pr 1/2 4 50%

    ahli waris bagian 12 100%
    Suami 1/4 3 25%
    Ibu kandung 1/6 2 16,67%
    Anak pr 1/2 6 50%
    Sdri Kandung ‘ashbh 1 8,33%

    Namun untuk memudahkan dalam memahami hukum waris, ketiga istilah tersebut cukup kita sebuat dengan istilah ‘ashobah secara umum. Hanya saja ahli waris dan syaratnya berbeda.








    more
  • Nabi Nuh Bapak Manusia Kedua
    NABI NUH AS
    BAPAK MANUSIA KEDUA

    BY: Anas Mas'udi El Malawi


    Pendahuluan

    "Maka aku katakana pada mereka : Mohon ampunlah kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yg deras kepadamu, dan membanyakkan harta serta anak-anakmu, dan (juga) menciptakan kebun-kebun yg di dalamnya terdapat sungai-sungai (yg mengalir)" (QS. 71 : 10-12).

    Dunia adalah rumah ujian bagi umat manusia. Dunia adalah sawah dan ladang aherat. Jika kita menanam kebaikan di dalamnya, kehidupan kita di aherat akan dipenuhi dengan kesenangan dan dihiasi dengan kebahagiaan. Namun jika kita menanam kebathilan dan kemunkaran, akan kita temui kehidupan di aherat sangat panas menyakitkan dan melelahkan, hingga kita kelak berteriak-teriak agar dikembalikan ke dunia dan berjanji akan berbakti pada Tuhan. Namun saat itu keluh kesah sudah tak berarti sama sekali. Hanya amal yg akan menemani kita dan menerangi kehidupan aherat kita.
    Untuk itu, manusia tidak mungkin mampu menghindar dari zig-zag kehidupan dunia yg dipermainkan zaman, jika ia tidak membaca sejarah kaum terdahulu. Sebab manusia adalah anak zaman dan anak lingkungannya. Dengan menelaah sejarah kaum terdahulu dia bisa meniru bagaimana bisa menyelamatkan diri dari panasnya kemelut kehidupan dunia dan terlebih utama bagaimana cara menyelamatkan diri dari keganasan hidup di aherat kelak.
    Dalam kisah nabi Nuh as kita bisa mempelajari banyak hal yg terjadi dalam kehidupan. Kita akan tahu bagaimana kita bergaul dengan sesama? Bagaimana kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta alam semesta? Bagaimana cara kita menghadapi problematika kehidupan yg semakin lama semakin memanas dengan api kemungkaran yg merajalela. Di sini kita bisa merenung bersama dan mengambil hikmah dari sejarah nabi Nuh as.

    Mengenal Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh adalah bapak manusia kedua setelah Adam as, bahkan bisa dikatakan ia adalah bepak umat muslim kedua. Ia disebut bapak manusia dan umat muslim kedua karena seluruh penduduk bumi hanyut ditelan banjir topan saat itu kecuali 80 orang yg selamt bersama nabi Nuh dalam kapalnya. Bagitu juga ke 80 orang tadi keimanannya semakin kuat dan yakin setelah menyaksikan langsung kekuasaan Allah dan kebenaran ajaran nabi Nuh as. Mereka semakin patuh dan tunduk pada perintah nabi Nuh.
    Nabi Nuh adalah keturunan nabi Adam as yg ke 10, ialah Nuh Ibn Lamik Ibn Mettiusyaleh Ibn Akhnukh (Idris; dlm Islam) Ibn Yarid Ibn Mahlal'il Ibn Qeinan Ibn Anousy Ibn Syits Ibn Adam. Dalam sejarah dikatakan bahwa setelah Nuh lahir, bapaknya (Lamik) hidup selama 595 th, kemudian meninggal pada usia 780 th. Nabi Nus as menikah dengan perempuan dari kerabatnya, yaitu Amdzarah Binti Barakeil Ibn Mihweil Ibn Akhnukh (Idris) Ibn Yarid Ibn Mahlal'il Ibn Qeinan Ibn Anousy Ibn Syits Ibn Adam saat berusia 500 th.
    Nabi Nuh dikaruniai Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.

    Kaum Nabi Nuh
    Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa "fatrah" (masa kekosongan) di antara dua rasul. Di mana biasanya manusia secara berangsur-angsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka lantas mereka kembali pada syirik meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
    Demikianlah kaum nabi Nuh tidak luput dari perihal tersebut, sehingga ketika nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala dan patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.
    Berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan gaib di atas manusia itu diberi beberapa nama kusus menurut kehendak dan selera kebodohan mereka. Kadang-kadang mereka menamakan berhala tersebut dengan nama " Wadd " dan " Suwa' ", kadangkala " Yaghuts " dan bila sudah bosan digantinya dengan nama " Ya'uq " dan " Nasr ". (lihat QS. 71: 23)


    Dakwah Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis dengan bijak dan penuh kesabaran. Ia mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala untuk kembali kepada tauhid menyembah Allah SWT Tuhan sekalian alam. Kemudian mengajak mereka untuk melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
    Nabi Nuh berupaya menarik perhatian kaumnya dengan mengajak mereka untuk merenungi alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT, melihat langit dengan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, beraneka tumbuh-tumbuhan dan air mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pergantian malam menjadi siang dan sebaliknya. Di mana semua itu bisa dijadikan bukti dan tanda nyata akan ke-esa-an Allah SWT yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.
    Di samping itu Nabi Nuh juga memotivasi mereka dengan mengatakan bahwa akan ada ganjaran yang akan diterima oleh manusia bagi setiap amalnya di dunia, yakni surga bagi yg berama baik dan neraka bagi yg melanggar perintah agama, baik melakukan kemungkaran maupun kemaksiatan.
    Mereka bertahun-tahun menyembah berhala dan mengkultuskannya. Mereka sangat yakin bahwa berhala-berhala tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dan menolak bahaya serta segala problematika kehidupan mereka adukan pada berhala-berhala tadi. Mereka tidak hentinya menyebut nama-nama berhala tersebut (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr). Di mana nama-nama tadi dulunya adalah nama-nama orang salih yg hidup sebelum mereka dan mereka meyakini ornga-orang tadi bisa memberi berkah dalam hidupnya. Hingga sampai mereka mengkultuskan nama-nama itu yg ahirnya dijadikan sebutan bagi nama-nama dewa/berhala mereka.
    Nabi Nuh telah berusaha sekuat tenaganya berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dalam setiap kesempatan, siang maupun malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka. Namun ternyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya. Menurut beberapa riwayat jumlah mereka tidak lebih dari seratus orang. Ada beberapa riwayat dari sejarawan muslim yg mengatakan bahwa jumlah mereka ada 80 orang yg terdiri dari nabi Nuh, ketiga anaknya (Sam, Ham dan Yafits) beserta isteri-isteri mereka.
    Selain mereka ada 73 orang dari keturunan nabi Sits. Keturunan Qabil dan Habil lenyap tenggelam oleh banjir topan. Mayoritas pengikut nabi Nuh adalah orang-orang miskin yg berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang kaya yg berkedudukan tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh bahkan mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, sampai mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan menggagalkan usaha dakwah Nabi Nuh.

    Dialog Nabi Nuh Dengan Kaumnya
    Kaum nabi Nuh berkata : "Bukankah engkau hanya seorang dari kami dan tidak berbeda dari kami sebagaimana manusia biasa. Jika betul Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, niscaya Allah akan mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya, bukan manusia biasa seperti engkau yg hanya dapat diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani dan orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat. Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak. Mereka mengikutimu secara buta dan tuli tanpa memikirkan dan menimbang masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Coba jika agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau ajukan kepada kami itu betul-betul benar, niscaya kamilah yg mengikutimu terlebih dahulu, bukannya orang-orang yang mengemis seperti pengikut-pengikutmu itu. Kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima ajakanmu dan dakwahmu. Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soa-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup. Kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui daripada kamu tentang semua hal. Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahwa engkau adalah pendusta belaka".
    Nabi Nuh menjawab ejekan kaumnya tadi seraya berkata : "Adakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakanku dan tetap menutup mata dan telinga terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku serta tetap mempertahankan pendirianmu yang sesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki. Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mau kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepadaku, maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya terhadap kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan siksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki. Dia pula yang berkuasa menurunkan siksa dan azab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang".
    Mereka menimpali ucapan nabi Nuh dengan mengemukakan syarat berkata : "Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani, buruh dan hamba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena kami tidak dapat bergaul dengan mereka, duduk berdampingan dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin".
    Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata : "Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tanpa pengecualian, yang pandai maupun yang bodoh, yang kaya maupun miskin, majikan ataupun buruh ,di antara penguasa dan rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat kuharapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan dariku orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dapat mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahwa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sehat. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat".
    Oleh karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka: "Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah (adu argument) dan berdebat. Cukup sudah kami berdialog dan mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu pada kami. Datangkanlah apa yang benar-benar bisa membuktikan bahwa engkau adalah orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."

    Senjata Pamungkas Nabi Nuh AS
    Setelah berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh (950) tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang Maha Kuasa, memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mengangkat derajat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah dan kodratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan congkak yang melekat pada para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka hidup saling mengasihi dan menyayangi, tolong-menolong di antara sesama manusia. Namun dalam waktu yang cukup lama itu, nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya untuk beriman, bertauhid dan beribadah kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang.
    Walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-upaya dan usahanya yg sangat maksimal dengan penuh kesabaran dan kesulitan dalam menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan serta makian kaumnya, nabi Nuh tetap berusaha untuk tabah dan bertahan berharap akan datang masanya di mana kaumnya akan sadar dan datang mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Namun harapan itu hanyalah sebatas harapan, hingga harapan itu makin hari makin berkurang. Sinar iman dan takwa tampak tidak akan bisa menebus ke tembok hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Sebagaimana termaktub dalam al Qur\an : "Sesungguhnya tidak akan ada orang dari kaum itu mengikutimu dan beriman padamu kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuatkan".
    Dengan adanya penegasan firman Allah tersebut, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ahirnya nabi Nuh as mengeluarkan ajian pamungkasnya yg berupa doa mustajab memohon kepada Allah agar menurunkan azab-Nya pada kaumnya yang berkepala batu seraya berseru :"Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu. Jika Engkau biarkan mereka tinggal, mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt.mereka". Doa Nabi Nuh pun dikalbulkan oleh Allah dan tidak perlu lagi menghiraukan kaumnya, karena mereka akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam. Kemudian nabi Nuh mendapat wahyu untuk membuat kapal sebelum azab diturunkan sebagaimana Allah memberi wahyu pada nabi Luth untuk keluar meninggalkan kampung halamannya sebelum fajar datang agar selamat dari azab tersebut.

    Nabi Nuh AS Membuat Kapal
    Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut. Kemudian dengan mengambil tempat di luar yg agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembuatan kapal yang diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan untuk menyelesaikan kapalnya, tetap saja ia tidak luput dari ejekan dan cemoohan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja pembuatan kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan: "Wahai Nuh! Sejak kapan engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal? Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu? Kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal? Dan kapal yang engkau buat itu berada di tempat yang jauh dari air. Apakah kamu berharap kapalmu itu akan ditarik oleh kerbau ataukah mengharap angin yang akan menarik kapalmu ke laut?
    Semua ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh disikapi dengan dingin dan tersenyum seraya menjawab:"Baiklah! Tunggu saja saatnya nanti. Jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olok kami, maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah yg akan menimpa kamu".

    Banjir Topan Datang
    Setelah selesai dari pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, nabi Nuh menerima wahyu dari Allah :"Siap-siaplah engkau dengan kapalmu! Jika tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda daripada-Ku, segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan berlayarlah dengan izin-Ku".
    Kemudian tercurahlah dari langit dan memancar dari bumi air yang sangat deras dan dahsyat yang dalam sekejap telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa, menggenangi daratan yang rendah maupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh nabi Nuh atas perintah Allah.
    Dengan iringan "Bismillahi majreiha wa mursaha" belayarlah kapal nabi Nuh menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihat orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkraman maut yang sudah siap menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.

    Putera Nabi Nuh AS, Kan'an Hanyut Ditelan Topan
    Ketika nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu.
    Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang. Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya : "Wahai anakku! Datanglah kemari dan bergabunglah bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang merupakan hukuman Allah".
    Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang : "Biarkanlah aku! dan pergilah! Jauhilah aku! Aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, Aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini".
    Nabi Nuh menjawab : "Percayalah bahwa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Siapapun tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperoleh rahmat dan ampunan-Nya". Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincir ke bawah lautan air mengikuti kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
    Nabi Nuh sedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah : "Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan ia adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa". Kamudian Allah berfirman : "Wahai Nuh! Sesungguhnya puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu. Hapuslah namanya dari daftar keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu dan mengikuti jalanmu serta beriman kepada-Ku yg dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang-orang yang mengingkari risalahmu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya mengikuti tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh".
    Nabi Nuh segera sadar setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sadar bahwa ia tersesat pada saat ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat menyesali kelalaian dan kealpaannya itu. Kemudian ia menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru : "Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat. Ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang tidak aku ketahui. Ya Tuhanku! Jika Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku menjadi orang yang rugi".

    Banjir Topan Reda
    Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh :"Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu".
    Ibn Abbas meriwayatkan bahwa setelah nabi Nuh dan kaumnya yg beriman turun dari kapal pada 10 Muharram ('Asyuro'), ia membangun rumah untuk masing-masing pengikutnya sejumlah 80 rumah. Kemudain perkumpulan tersebut dinamakan "Suq Tsamanin" (pasar 80). Semua keturuan Qabil binasa.
    Nabi Nuh saat peristiwa topan berlangsung sampai surutnya berusia 600 tahun dan hidup setelahnya selama 350 tahun. Selama itu ia berdakwah hanya berhasil mengajak 80 orang saja yg kemudian berkembang biak. Semua manusia pasca banjir topan dalam keadaan beriman dan imannya semakin kuat dengan adanya peristiwa tersebut.

    Ajaran Nabi Nuh AS
    Pada masa nabi Nuh as syariat Allah masih sebatas akidah karena populasi penduduk dunia relatif sedikit. Adapun ajaran akidah yg ada pada saat itu adalah :
    1. Peng-esa-an Allah. 2. Risalah Tuhan. 3. Hari Ahir. 4. Hari Kebangkitan. 5. Hari Perhitungan amal. 6. Adanya neraka dan kekalnya penghuni di dalamnya. 7. Adanya surga dan kekalnya penghuni di dalamnya. 8. Adanya dosa dan balasan. 9. Istighfar dan Taubat. 10. Adanya malaikat. 11. Adanya azab bagi pelaku maksiat.

    Ayat-Ayat Tentang Kisah Nabi Nuh As
    Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surat, di antaranya surat Nuh dari ayat 1 hingga 28, juga dalam surat "Hud" ayat 27 hingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka. Ayat-ayat tersebut antara lain :
    1. QS. Aly Imran : 33.
    2. QS. Al Nisa' : 163.
    3. QS. Al An\am : 83-84.
    4. QS. Al A'raf : 59-64.
    5. QS. Yunus : 71-73.
    6. QS. Hud : 25-49.
    7. QS. Al Furqan : 37.
    8. QS. Al Anbiya' : 76-77.
    9. QS. Al Syu'ara : 105-122.
    10. QS. Al Ankabut : 14-15.
    11. QS. Al Shaffat : 71-82.
    12. QS. Al Dzariyat : 46.
    13. QS. Nuh : 1-28.
    14. QS. AL Qomar : 9-16.
    15. QS. Al Mukminun : 23-30.
    16. QS. Ghafir : 5-6

    Penutup
    Demikian sejarah nabi Nuh yg dapat penulis uaraikan. Dari sana mungkin bisa kita petik beberapa hikmah bahawa hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan (iman) atau penamaan aqidah dan pendirian (keyakinan) adalah lebih erat dan lebih berkesan daripada hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kan'aan, walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
    Hal tersebut dapat menguatkan pemahaman firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud :"Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara", dan hadis Rasulullah s.a.w.yang artinya : "Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri", juga peribahasa yang berbunyi : "Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu".
    Semoga sejarah tersebut bisa menjadi renungan bagi setiap pembaca dan dapat menambah kesadaran akan beragama hingga termotivasi untuk mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Penulis juga berharap majelis ta'lim ini kelak bisa menjadi seperti kpalnya nabi Nuh yg mampu menyelamatkan jamaah dari ganasnya gelombang kehidupan yg semakin membumbung tinggi, amiiin. Untuk mengahiri tulisan ini penulis ucapkan "Hadaanallahu wa Iyyakum Shirathahul Mustaqim, Shirathal Anbiya\ wal Mursaliin", amiin.

    Refrensi
    1. Al Qur'an al Karim (terjemah).
    2. Qishash al Quran al Karim. Prof. Dr. Fadli Hasan Abbas. Dar al Furqan. Oman-Yordan.
    3. Qishash al Quran al Karim. Muhammad Ahmad Jadd al Maula.
    4. Majma' al Bayan al Hadits, Qishash al Anbiya' fi al Quran al Karim. Samih Athif Zen. Dar al kitab. Lebanon.
    5. Qishash al Anbiya. Ibn Jarir al Thabary. Al Dar al Mishriyyah al Lubnaniyyah.
    6. Al Irtibath al Zamani Bain al Anbiya wa al Rusul. Dr. HM, Washfi.
    7. Beberapa situs Islam;
    www.negerimusnah.com, www.ensiklopedia.com, dll.

    more