-
NU Menuju Rahmatan lil ‘AlamiinBy: Anas El Malawi
Muqaddimah
Dalam beberapa ayat al Qur’an, Allah telah berjanji akan menjamin kelestarian dan keutuhan agama-Nya, Islam (QS. Al Hijr: 9). Namun, jaminan itu tidaklah berarti bahwa Islam berkembang tanpa ada rintangan, halangan, ancaman, hambatan dan bahaya-bahaya terhadap kemurniannya dan kelangsungan perkembangannya. Juga tidak berarti bahwa kaum Muslimin tidak perlu berjuang memelihara kemurnian agamanya dan tidak perlu bersusah payah mengembangkannya. Justeru di sanalah (berdakwah) kaum muslimin diwajibkan (tanpa menafikan kewajiban lainnya).
Sebagaiamana Rasul SAW yg diwajibkan Allah SWT untuk berjuang mengembangkan risalah-Nya yang dijalani dengan susah-payah, penuh penderitaan, pengorbanan, ancaman dsb, kita pun –sebagai umatnya- diwajibkan untuk mengembangkan ajaran tersebut dengan semaksimal mungkin. Sebagaaimana termaktub dalam QS. Aly Imran: 20, 104 & Al Nahl:125. Sebagaimana sabda Rasul “Ballighuu ‘Anni walu Ayatan”.
Realita Dakwah
Da’wah secara de facto dan dejure akan berhadapan dengan dimensi masyarakat, yang dari kurun ke kurun berkembang dan memiliki karakternya masing-masing. Persoalan, tuntutan, kebutuhan dan kecenderungan masyarakat duapuluh tahun yang lalu tentu berbeda dengan masa sekarang.
William Knoke, dalam bukunya "Bold New World" (Dunia Baru yg Berani/tegas) menggambarkan perkembangan kebudayaan manusia yang disebutnya dalam empat dimensi. The First ;Dimension Society yang terjadi selama sekitar lima ribu (5.000) tahun telah melahirkan umat manusia sejak hidup di gua-gua sampai manusia merintis perdagangan dunia; mencari rempah-rempah, perdagangan sutera dan sebagainya. The Second; Dimension Society yg terjadi selama kurun waktu lima ratus tahun (500th) dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar yang kemudian melahirkan daerah-daerah koloni. Pada saat ini pula telah lahir kembali ilmu pengetahuan yang telah mendorong suatu bentuk masyarakat baru, yaitu masyarakat industri. The Third; Dimension Society yg terjadi hanya dalam masa 50 tahun yang ditandai oleh komersialisasi penerbangan, lahirnya corporation (badan hukum) multinasional, dan manufacture (menghasilkan) barang-barang perdagangan di seluruh dunia yang ditopang oleh aplikasi teknologi. The Fourth; Dimension Society yg merupakan kehidupan manusia abad XXI yang masih tanda tanya, dan terus berkembang (in progress), dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat mencengangkan, dan sekaligus mengubah tata kehidupan masyarakat.
Kehidupan masyarakat di masa kita adalah masyarakat yang tata dan pola kehidupannya sangat complicated (rumit), baik dalam hal trend (kecenderungan), style (gaya), habit (kebiasaan), ataupun will and need (keinginan dan kebutuhan) mereka. Budaya global juga menjadi salah satu pemicu berubahnya secara signifikan pola dan tata kehidupan masyarakat
Dari sisi lain, da’wah juga dihadapkan pada kenyataan munculnya ledakan penduduk di wilayah negara-negara miskin yang kebanyakan berpenduduk muslim (termasuk -jika boleh dikatakan- negeri kita), yang tidak dibarengi dengan kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai.
Dengan kondisi demikian maka efek berikutnya yang muncul adalah lahirnya permasalahan kehidupan sosial, budaya, pendidikan, ekologis dan kesehatan. Daftar permasalahannya dapat berupa: Output pendidikan yang rendah, budaya yang lepas dari nilai-nilai santun, hukum yang tak mampu berbuat adil, angka kejahatan yang semakin tinggi (sehingga menurunkan rasa aman masyarakat), kemaksiatan yang semakin terbuka dan merajalela, kejahatan politik yang terang-terangan, sampai pada konflik-konflik horisontal yang terjadi maupun yang ‘diciptakan’. Kondisi yang demikian buruk kemudian diperparah dengan buruknya moral para pejabat negara, pemain industri/usaha, termasuk para aparat penegak hukum.
Syaikh Muhammad Al Ghazali, seorang ulama dan pemikir kritis mengungkapkan bahwa kemunduran dan keterpurukan umat Islam disebabkan oleh hal-hal berikut:
1. Pemahaman yang salah terhadap Islam.
Kesalahan ini berupa: didahulukannya apa yang harus diahirkan, dan diahirkannya apa yang seharusnya didahulukan, berkembangnya berbagai khurafat berkedok agama.
2. Bodohnya kaum muslimin terhadap dunia.
Hal ini muncul karena adanya kekeliruan dalam masalah wawasan. Syaikh Al-Ghazali berkata, "Banyak sekali manusia yang telah berhasil melakukan pengkajian di bumi dan di langit. Keberhasilan ini membuat kekuatan mereka bertambah dan senjatanya makin dahsyat daya hancurnya. Lalu dimana posisi kaum muslimin dibanding mereka itu?" Al-Ghazali melanjutkan komentarnya: "Ketika saya membaca kisah penyerangan Perancis terhadap Mesir pada abad ketiga belas Hijriyah, otak saya mendidih karena marah melihat begitu banyak darah umat yang tumpah sia-sia. Para penunggang kuda yang berani jatuh berguguran di hadapan meriam-meriam modern. Pengalaman bangsa Perancis tentang kehidupan, ilmu, dan penemuan-penemuan sangat membantu mereka mencapai kemenangan. Mereka berhasil memaksa orang-orang memilih antara lari dari peperangan atau mati sia-sia! Kenapa kita begitu bodoh tentang dunia dan cara-cara mengkajinya? Pengetahuan yang luas tentang dunia dan kemampuan untuk mengelolanya adalah perkara biasa bagi generasi pertama umat ini”.
3. Merebaknya paham Jabariyah (fatalisme) di dunia Islam.
Paham ini mengakibatkan goyahnya kepribadian umat Islam karena sikap pasrah dan apatis mendominasi kehidupannya. Manusia dipaksa dan tidak memiliki hak ikhtiar (memilih). Ia tidak memiliki kekuatan maupun kemauan. Bagaimana ia bisa berkreasi sedang takdir tidak memberikan jalan kepadanya untuk bergerak bebas?. "Seperti bulu yang ditiup angin yang bergerak" Ia tidak pernah hinggap dan menetap di sebuah tempat. Kaya dan miskin, kebahagian dan kesengsaraan, keberhasilan dan kegagalan, semua ini telah ditentukan dan digariskan. Dan yang sudah digariskan tidak mungkin lagi dihindari! Dalam pandangan Al-Ghazali penyebab hal ini adalah ilmu kalam, ilmu tasawuf, dan karena ulah sebagian mufassir al-Qur’an dan pemberi syarah hadits. Selain itu, umat juga lemah dalam mengaitkan sebab dengan penyebab (hukum kausalitas), meluasnya pemikiran tentang karomah dan kejadian-kejadian aneh sehingga hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta ini hampir tidak tersentuh sama sekali.
4. Tradisi-tradisi riya’ dalam masyarakat Islam.
Generasi salaf adalah generasi yang fitrah dan tabiatnya lurus dan bersih. Tujuan hidup mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah. Perbuatan Rasul selalu menjadi teladan mereka.Tapi kaum muslimin akhir-akhir ini telah membuat berbagai macam tradisi yang sifatnya menonjolkan penampilan luar yang menipu. Tradisi itu berbeda jauh dengan fitrah Islam yang lurus dan mudah. Riya’ adalah syirik. Syirik telah menguasai kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat sehingga sesama kaum muslimin saling berjauhan.
5. Kondisi wanita pada jaman kemunduran.
Wanita dilarang menikmati pendidikan berdasarkan sebuah hadits bohong: "Jangan ajari mereka tulis menulis", dan juga sebuah hadits lemah: "Jangan sampai ia (wanita) melihat laki-laki, dan juga jangan sampai laki-laki melihatnya." Wanita dilarang pergi ke masjid berdasarkan riwayat yang jelas-jelas bertentangan dengan hadits mutawatir dan shahih. Rumah-rumah Allah dan dunia pendidikan kosong dari wanita. Wanita tidak boleh mengetahui al-Qur’an, hadits dan fiqih. Karena itulah, wanita muslimah tampil sebagai wanita dunia yang paling lemah ikatannya dengan agama dan masyarakat. Akibatnya dunia pendidikan Islam mengalami guncangan hebat.
6. Menurunnya sastra Arab.
Ketika kaum muslimin lemah, kemampuan sastra mereka juga mengalami krisis. Puisi dan prosa mengalami degradasi mutu, sastrawan-sastrawan berbakat menyusut, penulis-penulis dan pemikir-pemikir makin langka. Dengan memperhatikan perjalanan sejarah sastra sejak abad ke delapan kita akan merasakan kebenaran dari pernyataan ini. Sastra, puisi, dan prosa telah mengalami penurunan hebat yang mengundang rasa keprihatinan.
7. Manajemen keuangan masyarakat.
Manajemen dalam bidang ini mengalami keguncangan. Distribusinya sangat buruk, dan melahirkan kemiskinan yang memilukan serta kemewahan yang merusak. Meskipun Islam dikenal sebagai agama yang pertama kali menggerakkan pasukan untuk mengambil hak-hak orang miskin dari orang-orang kaya, tapi mayoritas penguasa muslim tidak memperhatikan bidang ini. Akibatnya, orang-orang miskin hidup dalam kondisi mengenaskan, sogok menyogok merebak - terutama di kalangan pejabat-, padahal Nabi SAW melaknat orang yang menyogok dan orang yang mau disogok. Pengangguran yang terang-terangan maupun yang terselubung meluas, lalu dalam wilayah Islam lahir manusia-manusia rakus terhadap harta; mereka tidak mengerti dari mana datangnya harta tersebut.
Melihat rumitnya persoalan yang dihadapi umat, menuntut da’wah berfikir keras untuk merumuskan kebijakan strategis dan rancangan taktis yang jitu, serta kesiapan dan ketangguhan kader yang mumpuni.
Tantangan Dakwah
Sejak beberapa abad terahir ini, bahaya permanen yg selalu mengancam Islam dan selalu muncul pada setiap kesempatan adalah serangan musuh Islam yg digencarkan oleh kelompok tertentu yg senantiasa menekuni kajian-kajian Islami tanpa disertai hidayah ilahiyyah dengan tujuan menghancurkannya dari dalam, yang lazim disebut dengan Mustasyriq (orientalis).
Mereka mempelajari Islam dengan seksama dan detil, belajar bahasa Arab dan bahasa-bahasa Timur lainnya dengan segala kelangkapannya, mulai dari sejarah, sosiologi, hukum dan adat-istiadat Islam. Dari sudut keilmuan mungkin mereka banyak mengerti atau bahkan melebihi beberapa ilmuwan Islam sendiri. Namun, sangat disayangkan semua itu hanya bertujuan satu; menghancurkan Islam, sebagai kelanjutan dari perjuangan golongan mereka dalam perang salib.
Secara fisik, perang salib memang sudah lama berahir, tetapi secara ma’nawi (politik, ideologi dan budaya) berlangsung terus berabad-abad kemudian, sampai sekarang dan bahkan akan berlangsung seterusnya. Medan perjuangan mereka mengancam kelangsungan dan kemurnian sangat luas, tak terbatas. Senjata dan saluran perjuangan mereka yg teruatama adalah otak, pikiran dan ilmu, terutama ilmu tentang Islam dan ke-Islam-an. Hingga zaman sekarang permaslahan semakin lengkap. Bukan hanya permaslahan rebutan harta dan tahta yg menyebabkan peperangan di beberapa negara belahan dunia, atau bahkan di beberapa pelosok desa pedalaman sekalipun. Namun juga terjadi perang pemikiran (ghazwatul fikri).
Dengan ilmu dan saluran akal yg menelorkan beberapa teori ilmiah dalam beberapa bidang dan menyusupkan beberapa paham-paham tertentu yg notabenenya bertentangan dengan syariat Islam, mereka (orientalis) berusaha untuk:
Mengaburkan, kemudian menggoncangkan kevalidan dan keotentakan asas ajaran Islam kedua (hadis) yg merupakan jalur pemahaman utama menuju sumbernya yg awal (al Qur’an). Bermula dari mengangkat permasalahan yg diperselisihkan oleh para ulama muslim dengan melontarkan beberapa wacana yg menimbulkan keraguan atas teks-teks nushush (hadis2 shohih) yg berkenaan dengan permaslahan tersebut. Di antaranya dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan tentang perawi hadis, seperti Abu Hurairah; bagaimana mungkin ia mampu meriwayatkan hadis sekian banyaknya? Bagaimana mungkin seorang imam al Zuhri, Imam bukhari, imam Muslim mampu mengumpulkan hadis-hadis yg bertebaran sedenikian rupa di beberapa tempat yg saling berjauhan?
menggunakan akal sebebas-bebasnya, dengan alas an Islam sendiri menghargai akal dan pikiran. Mereka beruapaya menumbuhkanpendapat bahwa akal manusia cukup untuk mengatur segalanya, tidak perlu adanya petunjuk kitab suci untuk menuntun jalannya. Dengan demikian kaum muslimin yg terpengaruh aka meninggalkan al Quran dan kemudian lari dari ajaran agama Islam yg dipeluknya. Hingga tidak jarang kita dapati orang yg mengaku muslim, tetapi amaliah sama sekali tidak mencerminkan ia seorang muslim. Jika saran itu tercapai, maka dengan mudah mereka memompa otak kaum Muslimin dengan teori-teori, paham-paham dan doktrin ciptaan mereka, antara lain:
Intelektualisme, yg pada pokoknya mengajarkan bahwa cukup dengan akal manusia dapat mencapai segala tujuan hidupnya.
Matrealisme, yg pada pokoknyamengajarkan bahwa yg paling menentukan hidup manusia adalah benda.
Sekularisme, yg pada pokoknya mengajarkan bahwa manusia harus dapat memisahkan masalah duniawi -yg harus dijadikan urusan pokok- dari urusan ukhrawi yg masih diragukan kebenarannya.
Demikian itu hanyalah sebagai sample dari beberapa tantangan yg datang dari luar Islam. Sudah tentu bahaya dan tantangan yg mengancam kelangsungan hidup dan kemurnia ajaran Islam tidak dating dari kaum orientalis saja. Di sana ada juga gerakan Yahudi dengan segala bentuk dan caranya, gerakan kristenisasi dengan segala bentuk dan caranya dsb.
Di sisi lain, bahaya dan tantangan tersebut juga datang dari kaum Muslimin sendiri, yg tidak sedikit jumlahnya, antara lain :
Al Ta’ashshub al A’ma (sikap memihak yg berlebihan kepada sesorang atau kelompok tertentu, baik karena motif kekeluargaan, kekuasaan atau motif lainnya, sehingga mencari-cari dalih dan dalil untuk membenarkan sikap sendiri. Hal ini tampak pada ahir masa kekhalifahan sahabat Utsman Ibn Affan ra., Aly Ibn Abi Thalib ra. Dan seterusnya dengan munculnya aliran Syiah dan Khawarij.
Masuknya pengaruh filsafat Yunani yg memunculkan aliran Mu’tazilah dsb.
Masih adanya sisa-sisa kepercayaan lama, seperti Israilyyat, Majusi, dsb. Sisa-sisa kepercayaan tersebut ditambah dan dikobarkan kembali dengan sengaja oleh unsur-unsur munafiqin. Di wilayah-wilayah baru yg didatangi oleh Islam sisa-sisa kepercyaan tadi pun merupakan sesuatu yg membahayakan kemurnian ajaran agama Islam, tidak terkecuali di negeri kita Indonesia.
Sikap “menentang yg lama” secara berlebih-lebihan sehingga tergelincir pada sikap “serba anti yg lama”, anti madzhab, anti ziarah kubur dsb.
Kurang adanya kesadaran dalam menerima perbedaan pendapat, baik pendapat antar individu maupun antar kelompok.
Munculnya upaya Deislamisasi, pendangkalan akidah umat, pemurtadan, perusakan moral, dan pemiskinan. Salah satu bentuk dari deislamisasi itu adalah gerakan tasykik (memunculkan sikap keraguan dalam umat Islam, red), sekuralisme, pluralisme, dan sikap hedonisme.
Kelima tersebut di atas hanya merupakan beberepa contoh tantangan dakwah yan ada. Namun, apapun bentuk tantangan yg dihadapi dan dari manapun ia datang, semuanya akan bisa dilalui dengan mulus tanpa risiko yg berarti jika gerakan dakwah mempunyai kader-kader yg “mumpuni”, “tahan banting”, cekatan, tegap, tanggap dan sabar serta tulusnya niat yang baik.
Menghadapi Tantangan Dakwah
Da’wah memerlukan dukungan kekuatan berbagai ilmu dan kemampuan yang akan menjadikannya konfigurasi kekuatan yang tangguh. Kekuatan da’wah harus ditopang oleh pemahaman yang utuh dan benar akan minhajul hayah (Al Qur’an dan AsSunnah) dan kekuatan amal yang efektif dan produktif sebagai wasailul hayah (ilmu pegetahuan dan teknologi). Da’wah memerlukan para kader yang memiliki kepakaran dan kemampuan `ulumul qauliyah (syari’ah, fiqh, da’wah, hadits, sirah, dsb.) dan `ulumul kauniyah (teknologi, pedagogi, antrpologi, sosiologi, psikologi, geologi, dsb.).
Da’wah yang dibutuhkan untuk memperbaiki umat adalah suatu gerakan da’wah syamilah (da’wah yang menyeluruh), da’wah yang mampu mempersiapkan segala kekuatan untuk menghadapi segala medan yang berat dan rumit: Wa a’iduu lahum mastatho’tum min quwwah (dan persiapkan lah oleh kalian segala kekuatan ). Kekuatan utama da’wah adalah para kader da’wah itu sendiri. Da’wah harus mampu mencetak kader-kader yang handal dari berbagai latar belakang kemampuan dan kemahiran yang saling bertaut memberdayakan umat. Da’wah harus bisa membangun kekuatan SDM dalam suatu jaringan dan barisan, kesamaan fikrah, kesatuan gerak dan langkah, dan kejelasan visi dan misi yang diembannya melalui suatu kepemimpinan yang cerdas, tangguh dan amanah.
Di samping itu dakwah harus mempunyai metode penyampaian yg tepat dengan situasi dan kondisi yang ada. Masalah metode dakwah, sebenarnya telah dipraktekkan Rasul SAW selama kurang lebih 23 tahun dan berhasil merekrut jutaan orang, bahkan sekarang jumlahnya sudah sampai milyaran. Metode yg beliau pakai dalam dakwah sangat tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi sepanjang masa sepanjang sejarah.
Metode tersebut adalah metode yg mulia nan suci karena berasal dari Sang Pencipta alam semesta langsung. Metode yg termaktub dalam QS. Al Nahl: 125 yg menggambarkan bahwa hendaknya dakwah itu menggunakan tiga cara ini:
Hikmah: adalah keterangan yg mantap, kokoh dan benar, dalil-dalil shahih yg benar untuk mengungkapkan kebenaran dan menghilangkan keraguan. Dengan arti luas, suatu kebijaksanaan yg terukir dalam setiap langkah, ucapan, sikap dan keputusan. Orang yg bijak ia akan selalu berhati-hati dalam mengolah kata, tidak asal keluar dari mulutnya. Setiap kata yg keluar diusahakan semaksimal mungkin ada guna dan manfaatnya dan tanpa menimbulkan risiko. Kalaupun akan menimbulkan risiko tidak terlalu berarti risikonya. Hingga lisannya benar-benar terjaga dari dusta, fitnah, cerca, dan sifat lain sejenisnya. Ringkasnya orang yg bijak akan selalu menimbang antara baik dan buruk sebelum berbuat sesuatu. “Al Tafakkur Qabla al Taammul Ahsanu Natijatan min al Amal Qabl al Tafakkur”. Cara hikmah ini lebih banyak terdapat dalam sikap dan perbuatan, tepatnya tercover dalam al akhlaq al karimah. Pepatah arab berkata “Lisan al Haal Afshahu min lisan al Maqaal”. Cara ini bisa digunakan untuk dakwah dalam segala jenis objek dakwah yg ada, baik untuk golongan yg awam maupun yg mengerti, baik untuk orang pedesaan maupun orang kota, baik untuk masyarakat konservatif maupun masyarakat modern. Demikian itu karena cara ini bisa menembus hati para Mad’uwwin (objek dakwah).
Al Mauidhah al Hasanah (petuah yg berguna): adalah petunjuk yang menggairahkan utuk berbuat kebenaran / kebaikan (al targhib) dan menunjukkan bahaya / akibat suatu perbuatan buruk dengan cara yang mengesankan kasih sayang seorang perawat terhadap pasien. Dengan kata lain, ucapan-ucapan baik dan bermutu, menunjukkan dan mengatakan yg benar itu benar dan akan mendatangkan kebaikan di dunia dan aherat, dan yg salah itu salah dan akan mendatangkan kesengsaraan di dunia mapun aherat. Cara ini biasanya dipakai untuk menghadapi Mad’uwwin yg tergolong awam dan orang-orang mengerti yg lalai akan kewajibannya.
Al Mujaadalah billati Hiya Ahsan; adalah diskusi, dialog atau debat dengan tata cara yang lebih baik menggunakan pendekatan dengan lemah lembut. Dengan arti lain, menggunakan argumentasi-argumentasi yg benar dan kuat untuk menghadapi orang-orang yg menentang kebenaran agama Islam dan ajarannya.
Ketiga metode tersebut tidak berarti sudah cukup untuk mencapai keberhasilan dalam dakwah. Namun, ada beberapa hal yg sangat menunjang keberhasilan dakwah yg perlu diperhatikan dalam memeraktekkan ketiga metode tadi.
Faktor-Faktor Penunjang Keberhasilan Dakwah
Dalam masalah dakwah, Rasul SAW lah pakarnya. Oleh karenanya dakwah harus mencermati dengan seksama bagaimana beliau dalam kurun waktu yg relatif singkat mampu menundukkan juataan umat yg sebelumnya pada suka mengkultuskan benda-benda gaib, benda-benda mati, seperti arca, berhala, patung dan benda-benda alam yg bergerak (hidup), seperti Matahari, bulan, Bintang, Pepohonan serta tempat-tempat tertentu.
Di sana dapat ditemukan beberapa factor yg dapat menunjang keberhasilan dakwah beliau, baik yg bersifat internal (berhubungan dengan beliau sendiri sebagai Da’I) maupun yg bersifat external (berhubungan dengan segala sesuatu di luar individu beliau).
Faktor Internal. Dalam diri Rasul SAW –sebagai Da’I- ditemukan beberapa hal, antara lain:
a. Niat baik.b. Kuatnya keimanan dan ketaqwaan.c. Yakin akan pertolongan Allah.
d. Jujur.e. Al Akhlaq al Karimah.f. Sabar dan tabah dalam segala rintangan.
g. Ikhlas.h. Adil dan bijaksana.i. Istiqamah.
Faktor External, antara lain:
a. Kepercayaan oarang lain terhadap beliau. b.Kedekatan beliau dengan orang lain.
c. Dukungan orang-orang dekat. d. Tunduknya pemuka masyarakat pada beliau
e. Tujuan yg jelas dan pasti. f. Doa.
Di sana ada banyak persamaan dengan apa yg dijadikan perinsip dalam peregerakan oleh Jam’iyyah NU dan jika dicermati perinsip-perinsip tersebut sangat tepat dipakai untuk peraktek dalam dakwah. NU yg mempunyai cita-cita menjadikan dirinya sebagai “Rahmatan lil ‘Alamiin “ (organisasi yg moderat, mampu mengayomi semua umat) pun menjadikan perinsip-perinsip tersebut sebagai sarana untuk mencapai cita-cita mulianya itu. Perinsip-perinsip tadi antara lain:
Al Muhafadhah ‘Ala al Qadim al Shalih wa al Akhdzu bi al Jadid al Ashlah (melestarikan tradisi lama yg laik dan mengikuti arus baru yg lebih baik menurut syariat). Yg pertama lebih condong pada masalah akidah, ideologi dan Ibadah. Sedangkan yg kedua lebih condong pada masalah seputar akal dan otak (pemikiran/pola pikir) serta sarana-sarana kasar (produc manusia) yg membantu. Keduanya harus berjalan bersama. Jika hanya “melestarikan”, maka akan tertinggal kereta dan jika hanya “mengikuti arus”, akan menyebabkan sembrana (acuh0tak acuh & sombong).
Al Tawassuth (pertengahan antara dua hal), termasuk dalam pemahamannya juga adalah al I’tidal wa al tawazun. Al I’tidal berarti tegak dan lurus, tidak condong ke kanan-an dan ke kiri-an dan al Tawazun berarti keseimbangan, tidak berat sebelah, tidak kelebihan suatu unsure atau kekurangan unsure yang lain. Perinsip ini merupakan perinsip agama Islam dan karakternya. Kata al tawassuth terdapat dalam QS. Al Baqarah: 143. Kata al I’tidal termaktub dalam QS. Al Maidah: 9 dan kata al tawazun terukir dalam QS. Al Hadid: 25.
Manifestasi dan karakter al Tawassuth ini tampak pada segala bidang ajaran agama Islam dan harus dipertahankan, terutama oleh Ahl Sunnah wal Jama’ah. Manifestasi tersebut ada dalam:
Bidang Aqida, Yaitu keseimbangan antara penggunaan dalil aqli dan dalil naqli dengan pengertian bahwa dalil aqli juga dipergunakan, tetapi ditempatkan di bawah dalil naqli, usaha memurnikan aqidah dari segala campuran aqidah di luar Islam, dan ridak tergesa memvonis musyrik, kufur dsb terhadap mereka yg hanya karena satu dan lain hal belum dapat memurnikan tauhid/aqidahnya semurni-murninya.
Bidang Syariah, Yaitu berpegang teguh pad al qur’an dan Sunnah dengan menggunakan sistem dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan melalui jalur-jalur yang wajar. Pada masalah yg sudah ada dalil nash sharih dan qath’i (tegas dan pasti) tidak boleh ada campur tangan pendapat akal dan pada maslah dhanniyyat (tidak tegas dan tidak pasti) dapat ditoleransi adanya perbedaan pendapat selama masih tidak bertentangan dengan perinsip agama.
Bidang tasawwuf/Akhlaq. Yaitu tidak mncegah seseorang, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam dengan cara riyadhah dan mujahadah menurut kaifiyyah yg tidak bertentangan dengan perinsip-perinsip hukum dan ajaran Islam. Mencegah extremisme dan berlebih-lebihan (al ghuluwwu)yang dapat menjerumuskan orang kepada penyelewengan aqidah dan syariat. Berpedoman bahwa akhlaq yg luhur selalu berada di antara dua ujung sikap yg extrem (al tatharruf), misalnya sikap berani berada di antara penakut dan sembrono, tawadhu’ (menempatkan diri secara tepat) merupakan sikap penengah antara takabbur (sombong) dan tadzallul , sifat dermawan berada antara sifat bakhil dan boros, dll.
Bidang interaksi social. Yaitu mengakui watak manusia yg selalu senang berkelompok berdasarkan unsure pengikatnya masing-masing. Pergaulan antar golongan harus diusahakan berdasar atas saling mengerti dan saling menghormati. Permusuhan terhadap suatu golongan hanya boleh dilakukan terhadap golongan yang nyata memusuhi agama Islam dan Muslimin.
Bidang kehidupan bernegara. Yaitu negara nasional (yg didirikan bersama oleh seluruh rakyat) wajib dipelihara dan dipertahankan eksisitensinya. Penguasa negara y sah harus ditempatkan pada kedudukan yg terhormat dan harus ditaati selama tidak menyeleweng, dan atau memerintah pada sesuatu yg bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah SWT. Jika terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkatnya dengan cara yg sebaik-baiknya.
Bidang kebudayaan. Yaitu, kebudayaan –termasuk di dalamnya adat-istiadat, tata pakaian kesenian dsb- adalah hasil budi daya manusia yg harus ditempatkan pada kedudukan yg sewajarnya, dan bagi Muslimin, kebudayaan harus dinilai dan diukur dengan norma-norma hukum dan ajaran agama. Kebudayaan yg baik menurut agama dari manapun datangnya, dapat diterima dan dikembangkan dan senaliknya, yg tidak baik harus ditinggalkan. Kebuyaan lama yg baik dipelihara dan dikembangkan. Sedangkan budaya baru yg lebih baik dapat dicari dan dimanfaatkan. Tidak boleh ada sikap apriori, yakni selalu menerima yg lama dan menolak yg baru atau sebaliknya selalu menerima yg baru dan menolak yg lama.
Bidang dakwah. Yaitu, berdakwah dengan mengajak masyarakat utnuk berbuat menciptakan keadaan yg lebih baik menurut ukuran agama. Harus dilakukakn dngan sasaran dan tujuan yg jelas. Harus dilaksanakan dengan keterangan yang jelas, petunjuk yg baik.
3. Al Tasamuh (toleransi). Yaitu dakwah dengan mempertimbangkan kemaslahatan bersama demi meminimalisir risiko yg akan ditimbulkan. Dapat menerapkan metode dakwah dan menjalaninya selaras dengan sikon yang ada, seperti hal pengharaman khamr (narkotika) misalnya, tidak langsung mengatakan kepada para pecandu bahwa khamr itu haram, yg mengonsumsinya akan masuk neraka selamanya, tidak boleh membuka aurat sembarangan kepada mereka yg biasa membukanya, dll. Akan tetapi pelarangan dan perintah bias disampaikan secara step by step dengan melihat sikon mad’uwwin.
Khatimah
Dari beberapa uraian di atas bias disimpulkan bahwa keberhasilan dakwah itu intinya bersumber dari kader dakwah (dai) itu sendiri dan metode yg dipakai. Sebagaimana Rasul SAW yg telah berhasil merubah kehidupan yg maha gelap menjadi alam yg sangat terang benderang (Islam). Demikian itu beliau jalani dengan seorang diri di awal perjuangan dakwahnya.
Jika boleh dikatakan penulis mencoba melemparkan satu wacana metode dakwah yg insyaallah akan bias membantu keberhasilannya menuju cita-cita yg diharapkan, yakni menciptakan masyarakat yg ber-IPTek dan ber-ImTaq tinggi, hingga masyarakat akan hidup dalam kedamaian dan ketentraman di bawah naungan ridha Ilahi.
Metode tersebut adalah dakwah ala “sepak bola”, yakni dakwah yg teroganisir oleh suatu lembaga tertentu yg memilki beberapa team militan bersatu dalam satu tujuan. Di sana ada “keeper”, yg berarti para kiyai dan tokoh masyarakat yg mempunyai massa teretntu (pesantren/madrasah/sekolah). Di mana tugas utamanya adalah mendidik generasi dengan bekal-bekal Islami dan membentengi mereka dari serangan-serangan luar. Jangan sampai ada paham-pahm luar yg mengahncurkan masuk ke “gawang otak” mereka.
Selain “keeper” ada “bek” yg terbagi menjadi dua, “bek kanan” dan “bek kiri”. “Bek kanan” berarti para “politikus” dan “negarawan” (orang-oarang pemerintahan) yg bertugas mengatur siasat jalannya dakwah di medan yg luas dengan mencari informasi dari luar kemudian menyampaikannya ke dalam serta membentengi pemahaman-pemahaman anak didik “keeper” dari serangan musuh, dan “bek kiri” berarti para “hartawan yg dermawan” yg bertugas menyuplai segala keperluan dan kebutuhan dakwah.
Kemudian ada juga “penyerang tengah”, yg berarti para “dai local” yg bertugas menyampaikan dasar-dasar pemahaman agama yg benar, dan terarhir adalah “penyerang depan” yang berarti para “dai nasional” dan “dai internasional”, yg bertugas melawan serangan-serangan musuh dengan argumentasi yg benar dan mematikan. Sehingga musuh tidak berkutik dan tidak berani lagi mengusik ketenangan umat Islam karena merasa segan dan minder.
Nah, semua itu akan membuahkan hasil yang gemilang dalam mencapai cita-cita dakwah jika kesebelasan tersebut bias menjalankan tugasnya masing-masing dengan tanpa mengenyampingkan lemparan bola dari teman seperjuangannya. Bukan saling berebut meng-goal-kan bola ke gawang musuh hanya demi ketenaran sesaat saja.
Demikian yang penulis sampikan. Semoga tulisan yg dinuqil dari beberapa artikel yg diambil dari ineternet dan sedikit bacaan dari buku yg ada di tangan penulis, mampu membuka ckrawala jalan pikiran kita. Semoga menjadi tabungan amal shalih bagi penulis dan bermanfaat bagi setiap pembaca.
more
-
Lailaitul Qadar Lentera Masa Depan
LAILAT AL QADR
LENTERA MASA DEPAN
By: Anas Mas’udi El Malawi
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci bagi umat Islam. Di dalamnya terkandung banyak cahaya yg bisa diraih oleh setiap orang yang mampu memanfaatkan moment tersebut dengan sebaik-baiknya. Di bulan inilah al Qur’an yg menjadi a way of life dalam kehidupan dunia dan akherat bagi semua insan diturunkan oleh Allah Sang Pencipta jagat raya. Di mana peristiwa tersebut kita kenal dengan istilah Nuzul al Qur’an (turunnya al Qur’an) yang terjadi pada malam 17 bulan Ramadhan. Namun al Qur’an menyebutnya dengan Lailat al Qadr. Lantas bagaimana kita memahami dua istilah bagi turunnya al Qur’an tersebut? Apakah Nuzul al Qur’an itu berarti Lailat al Qadar? atau masing-masing mempunyai arti dan maksud yang berbeda?.....
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami masing-masing arti kedua istilah tadi. Kemudian kita coba gabungkan dua pengertian tersebut. Jika ternyata ada persamaan dan perbedaan dalam pengartiannya berarti di sana ada kemungkinan dua istilah tersebut mempunyai maksud yang sama, hanya saja istilahnya yg berbeda. Pun tidak menutup kemungkinan kedua istilah tadi memang benar-benar berbeda istilah dan maksudnya, hanya saja mungkin dalam sebagian pengertian harfiyahnya (etimologi) atau istilahiyahnya (terminologi) ada yg sama.
Apa Makna Lailat Al Qadr?
Untuk memahami makna Lailat al Qadar. kita tidak terlepas dari surah al-Qadr yang merupakan surah ke-97 menurut urutannya di dalam Mushaf (al qur’an). Ia ditempatkan sesudah surah Iqra'. Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surah Iqra'. Bahkan, sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surah Al-Qadr turun setelah Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah. Penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah SWT, dan dari urutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.
Kalau dalam surah Iqra', Nabi saw. diperintahkan (demikian pula kaum Muslim) untuk membaca dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, maka wajarlah jika surah sesudahnya -yakni surah Al-Qadr ini- berbicara tentang turunnya Al-Quran dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Qur'an (turunnya Al-Quran).
Kembali kepada pertanyaan semula, apa arti Lailat al-Qadr dan mengapa malam itu dinamai demikian? Di sana ditemukan berbagai jawaban. Kata al qadr sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:
Penetapan dan pengaturan, sehingga Lailat Al-Qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah pada (QS. 44: 3) malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. Ada ulama yang memahami “penetapan” itu dalam batas setahun. Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadr diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah (garis-garis besar haluan kehidupan) dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
Kemuliaan, yakni malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata al qadr yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 surah Al-An'am yang berbicara tentang kaum musyrik: “Maa qadarullaha haqqa qadrihi idz qaalu maa anzalallahu 'alaa basyarin min syay'i” (Mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).
Sempit, yakni malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surah Al-Qadr: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”. Kata al qadr yang berarti sempit digunakan oleh Al-Quran antara lain dalam ayat ke-26 surah Al-Ra'd: “Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya' wa yaqdiru” (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya [bagi yang dikehendaki-Nya).
Ketiga arti tersebut -pada hakikatnya- dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila dapat diraih maka ia dapat menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan?
Adapun Nuzul al Quran, secara etimologi terdiri dari dua kata “Nuzul” dan “Al Qur’an” . Kata “Nuzul” diambil dari bahasa Arab “nazala-yanzilu-nuzuulan” yang artinya “turun” dan “Al Qur’an” berarti kalamullah yang diturunkan pada nabi Muhammad saw. Saat beliau beruasia 41 tahun.
Jadi, “Nuzul al Qur’an” adalah turunnya al Qur’an, yakni hari ditrunkannya al Qur’an. Di mana telah diketahui bersama bahwa turunnya al Qur’an tersebut pada malam ke 17 dari bulan ramadhan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari, mulai tanggal 17 Ramadhan tahun 1 kenabian sampai tanggal 9 Dzul Hijjah pada waktu haji akbar tahun 10 H., dengan wahyu pertama surat “Iqra’” (QS. Al ‘Alaq: 1-5) dan wahyu terahir surat al Ma’idah: 3. Dengan perincian 12 tahun, 5 bulan 13 hari diturunkan di Makkah al Mukarramah, dari tanggal 17 bulan Ramadhan tahun 1 kenabian (tahun ke 41 dari usia Rasul saw.) sampai awal Rabi’ul Awal tahun ke 13 kenabian, dan 9 tahun, 9 bulan, 9 hari diturunkan di Madinah al Munawwarah, dari awal R. Awal tahun ke 13 kenabian sampai 9 Dz. Hujjah tahun ke 10 H. (tahun ke 63 dari usia Rasul saw.). Dengan kata lain, kurang-lebih 63,33%-nya al Quran yg berjumlah 30 juz diturunkan di Makkah al Mukarramah dan 36,67%-nya diturunkan di Madinah al Munawwarah[1].
Dari sini dapat dipahami bahwa Nuzul al Qur’an dan Lailat al Qadr merupakan dua istilah bagi satu rangkaian peristiwa bersejarah dalam dunia Islam, yakni malam agung diturunkannya kitab suci al Qur’an pada bulan ramadhan yang suci. Maka, sudah sepantasnya bagi mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan dan memperbanyak membaca al Qur’an disebut orang yang kembali pada kesuciannya (fitrahnya) semula, setelah selesai dari puasanya sebulan, yakni ketika dating hara raya Ied al fitri (hari kembalinya kesucian). Hingga mereka berseru “Minal ‘Aidiin wal Faiziin” (semoga termasuk orang-orang yang kembali pada fitrahnya dan orang-orang yg beruntung dengan kesucian tersebut).
Apa, Bagaimana dan Kapan Lailat al Qadr?
Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan. Salah satu di antaranya adalah Lailat al-Qadr. Tetapi, apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja, yakni pada malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu? Atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Bagaimana pula kedatangannya? Apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah ada tanda-tanda fisik material (yang bisa dipanca-indera) yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan lain sebagainya)? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan Lailat al-Qadr itu.
Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa Ada suatu malam yang bernama Lailat al-Qadr (lihat QS 97:1) dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan (lihat QS 44:3). Di mana malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci al qur’an menginformasikan bahwa ia diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan (QS 2:185) serta pada malam Al-Qadr (QS 97:1). Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa maa adraaka maa lailat al-Qadr”.
Sebanyak tiga belas kali kalimat “wa maa adraaka” terulang dalam Al-Quran. Sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti wa maa adraaka maa yaumul fashl, wa maa adraaka mal haaqqah, wa maa adraaka maa ‘illiyyun, dst. Kesemuanya itu merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Dari ketiga belas kali wa maa adraaka itu terdapat ayat yang mengatakan: wa maa adraaka math thaariq, wa maa adraaka mal ‘aqabah, dan wa maa adraaka maa lailat al-qadr.
Kalau dilihat, pemakaian Al-Quran tentang hal-hal yang menjadi objek pertanyaan, maka kesemuanya adalah hal-hal yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia. Hal ini tentunya termasuk Lailat Al-Qadr yang menjadi pokok bahasan kita, kali ini.
Walaupun demikian, sebagian ulama membedakan antara pertanyaan maa adraaka dan maa yudriika yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam tiga ayat: “Wa maa yudriika la'allas saa'ata takunu qariban” (Al-Ahzab: 63), “Wa maa yudriika la'allas sa'ata qariib ...” (Al-Syura:17), “Wa maa yudriika la‘allahuu yazzakkaa” (‘Abasa: 3). Ada dua hal yang dipertanyakan dari ungkapan wa maa yudriika adalah pertama menyangkut waktu kedatangan hari kiamat dan kedua apa yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.
Secara gamblang, Al-Quran -demikian pula Al-Sunnah- menyatakan bahwa Nabi saw. tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat dan tidak pula mengetahui tentang yang gaib. Ini berarti bahwa wa maa yudriika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walaupun oleh Nabi saw. sendiri. Sedangkan wa maa adraaka, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya Allah SWT menyampaikannya kepada Nabi saw., sehingga informasi lanjutannya dapat diperoleh dari beliau. Itu semua berarti bahwa persoalan Lailat al-Qadr harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw., karena di sanalah dapat diperoleh informasinya
Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Lailat al-Qadr, tetapi karena umat sepakat mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu turunnya Al-Quran. Pakar hadis, Ibnu Hajar, menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda bahwa malam qadr sudah tidak akan datang lagi.
Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama dengan berpegang pada teks ayat Al-Quran serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa Lailat al-Qadr terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan, Rasul saw. menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwanya masing-masing untuk menyambut malam mulia itu secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh hari Ramadhan. Sebagaimana sabda beliau: “.....maka barang siapa yang ingin memperolehnya (lailat al qadr), hendaklah ia mencarinya di tujuh hari terahir (bulan Ramadhan)”. (HR. Bukhari-Muslim) dan dalam hadits lain, ‘Aisyah ra. menceritakan perihal Rasul saw. Ia berkata: “(dulu) Rasulullah saw jika masuk 10 hari –yg terahir dari Ramadhan- beliau mengencangkan mi’zarnya (pakaian penutup badan bagian bawah/ sejenis sarung;sekarang), menghidupi malamnya (tidak tidur untuk ibadah) dan membangunkan isterinya”. (HR. Bukhari-Muslim)
Memang, turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadr, tetapi itu bukan berarti bahwa malam mulia itu hadir pada saat itu saja. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri. Pendapat tersebut dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari' (present tense) pada ayat, “Tanazzalul mala'ikatu wa al-ruh”, kata “Tanazzau[2]l” adalah bentuk yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang.
Namun, apakah jika Lailat al Qadr hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Akan tetapi, dugaan itu -hemat penulis- kurang tepat, karena itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik mereka yang terjaga karena untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi lain, kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik material. Sedangkan riwayat-riwayat demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Dan seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun tidak akan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Sebagaimana Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. Pun Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat al-Qadr tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Sebagaimana tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya?
Demikian juga dengan Lailat al-Qadr. Itulah sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Dan itu pula sebabnya Rasul saw. menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.
Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailat al-Qadr datang menemui seseorang, ketika itu malam kehadirannya menjadi “malam qadr” baginya, yakni saat yang menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya pada masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat yang sangat urgent dan interest guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak, dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbit fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadr yang dikemukakan di atas!).
Syaikh Muhammad 'Abduh pernah menjelaskan pandangan Imam al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia..Ia memberikan ilustrasi berikut: "Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, yaitu bisikan baik dan buruk. Manusia seringkali merasakan pertarungan antara keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, demikian halnya sampai pada akhirnya sidang memutuskan sesuatu. Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedangkan yang membisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Nah, turunnya malaikat, pada malam Lailat Al-Qadr, menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya berarti bahwa ia akan selalu disertai oleh malaikat sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Jiwanya akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tidak terbatas sampai fajar malam Lailat Al-Qadr, tetapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.".
Apa dan Bagaimana Menyambut Lailat al Qadr?
Di atas telah dikemukakan bahwa Nabi saw., menganjurkan sambil mengamalkan i 'tikaf (berdiam untuk ibadah) di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Di mana masjid merupakan tempat suci, tempat segala aktivitas kebajikan bermula. Di masjid, seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya. Pun di masjid, seseorang dapat menghindar dari hiruk-pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengayaan iman. Itulah sebabnya ketika melakukan i'tikaf, seseorang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan ketakwaan.
Malam Al-Qadr, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.
Dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadr yang beliau ajarkan kepada umatnya, antara lain, adalah melakukan i'tikaf. Walaupun i'tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama saja, -bahkan dalam pandangan Imam Syafi'I; walaupun hanya sesaat asal dibarengi oleh niat yang suci-. Namun, Nabi saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa. Sebagaiamana dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra.: “Sesungguhnya Nabi saw. (pernah) beri’tikaf pada sepuluh hari terahir dari bulan Ramadhan sampai Allah ‘Azza wa Jalla menjemput ajalnya. Kemudian setelah itu para isterinya (juga) beri’tikaf”. (HR. Bukhari-Muslim).
Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah: “Rabbanaa Aatinaa fid Dunyaa Hasanah, wa fil Aakhirati Hasanah wa Qinaa 'Adzaaban Naar” (Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Doa ini bukan sekedar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud, karena doa ini mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah. Ia berkata: “Saya bertanya: Ya Rasulallah! Apa pendapat baginda jika saya tahu kapan malam Lailat al Qadr itu? Apa yang akan saya baca di dalamnya? Beliau menjawab: Bacalah! Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anni”. (HR. Lima Perawi kecuali Abi Dawud dan disahihkan oleh turmudzi dan al hakim).
Apa Faktor Kemuliaan Lailat al Qadr?
Kalau ada yang mempertanyakan, kenapa "Lailatal Qadr" itu lebih baik dari seribu bulan? Apa dasar dan alasannya? Apakah ada kwalitas yang dimiliki secara khusus tanpa malam yang lain? Apakah "khairiyah / imtiyaz" (kebaikan / keistimewaan) malam tersebut karena malam (sebuah potongan masa) itu sendiri? Ataukah karena Muslimnya yang sedang beribadah pada malam itu? Atau sebenarnya karena apa?
Beragam respon yang diberikan oleh kaum Muslimin. Sebagian besar, diantaranya, menilai bahwa "keistimewaan" malam itu adalah karena malamnya tersebut. Sehingga malam itu dijadikan (seolah) malam yang disucikan secara khusus, yang memiliki tanda-tanda lahir misalnya malamnya sejuk dengan terpahan angin lembut, langit di malam itu hampir tidak berawan dengan bulan yang terang benderang. Demikian juga di pagi harinya, tiba-tiba saja mentari terang benderang hampir tak terhalangi oleh sedikit awan pun.
Sebagian lain menilai, keistimewaan malam itu dikarenakan bahwa beribadah pada malamnya akan menghasilkan pahala senilai ibadah selama seribu bulan lebih (83 tahun, 3 bulan lebih sedikit) dibanding ibadah pada malam-malam yang lain. Oleh karena itu, sebagian umat yang menafsirkan demikian, berusaha untuk beribadah sebanyak-banyaknya dan sekaligus cenderung mengkalkulasi secara matematis "nilai" pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, sebagian umat ini cenderung bersikap materialistis dalam menyikapi malam al Qadr ini. Akibatnya, dengan merasa telah mendapatkan "Lailaat al Qadr", cukuplah kiranya ibadah perbekalan untuk menuju akherat. Toh, kalau dihitung-hitung ke depan tidak mungkin lagi hidup seribu bulan untuk menyamai satu malam tersebut. Maka selepas Ramadhan, ia merasa ringan untuk meninggalkan kewajiban dan itu tidak menjadi masalah baginya, karena semua itu telah tertutupi oleh ibadah semalam (lailatul Qadr) tadi.
Bukanlah masalah jika memang cenderung dinilai demikian (secara matematis). Bukankah disunnahkannya "I'tikaf" di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan juga memang terkait dengan upaya mengoptimalkan ibadah pada malam-malam yang dianggap kemungkinan besar jatuhnya "Malam Besar" itu. Seorang Muslim termotivasi untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya merupakan hidayah tersendiri. Sebab memang aneh, jika di awal-awal Ramadhan masjid pada ramai, tapi di penghujung Ramadhan justeru yang datang hanya segelintir orang. Padahal, sebaik-baik nilai amalan itu adalah "khawatimuha" (penutupnya). Beribadah secara maksimal di akhir-akhir Ramadan bisa jadi merupakan indikasi "Husnul Khaatimah" Ramadhan itu sendiri bagi seseorang.
Hanya saja, sangat disayangkan kalau kehebatan malam itu hanya terbatas pada jumlah dan bentuk ibadah-ibadah yang kita persembahkan. Apalagi kalau penilaian kita dibatasi oleh malam, dalam arti sepotong masa dari bulan ini sendiri. Demikian karena sesungguhnya Allah Maha Adil, tidak pernah membedakan antara waktu-waktu yang ada, semuanya tergantung pemanfaatannya saja.
Dan yang perlu diingat adalah bahwa setiap hari masing-masing Muslim mempunyai kewajiban sendiri, baik kewajiban syar’I maupun non syar’I (norma & social). Kewajiban kemarin, bukanlah kewajiban hari ini. Kewajiban hari ini tidak pula kewajiban hari esok. Hari esok ada kewajiban tersendiri yang tidak bisa diganti dengan satu amalan lain, sekalipun ia mempunyai nilai kebaikan yang melebihi ketetapan batas usianya, sperti amalan di Lailat al Qadr.
Untuk itu, maksimalisasi "Lailat al Qadr", justeru tidak terletak pada jumlah dan bentuk ibadah-ibadah yang kita lakukan. Maksimalisasi "Kekuatan Malam" itu justeru terletak pada ayat pertama dari surah Al Qadr: "Sungguh Kami telah turunkan pada malam Al Qadr".
Sebenarnya, kalau dikembalikan pada urutan-urutan pertanyaan tadi: "Dan tahukah kamu apa Lailat al Qadr itu? Lailat al Qadr itu lebih baik dari seribu bulan". Lalu pertanyaan yang timbul kemudian: "kenapa kiranya malam itu lebih baik dari seribu bulan?". Jawaban yang –insyaallah- tepat adalah karena "Sungguh Kami menurunkan al Qur'an pada Malam Al Qadr itu". Artinya, keistimewaan malam itu sangat erat terkait dengan diturunkannya sebuah Kitab yang sangat istimewa (Al Qur'an). Itulah sebabnya, Allah menyebutkan: "Sungguh Kami turunkan (al Qur'an) pada malam yang diberkahi" (Ad-Dukhaan: 3). Sekali lagi, Allah mengaitkan "keberkahan" malam itu dengan diturunkannya Kitab yang membawa berkah (al Qur'an).
Dengan demikian, kehebatan / kekuatan / keunikan / keistimewaan / kelebihan Lailat al Qadr tidak lain karena terkait dengan kehebatan / kekuatan / keunikan / keistimewaan / kelebihan yang ada pada "al munazzal" (yang diturunkan; al Qur'an) pada malam itu.
Dengan demikian, sesungguhnya kalaulah kita ingin meraih malam yang jauh lebih baik dari seribu bulan itu, sebaiknya selain diperbanyak amalan-amalan ibadah, juga sangat penting untuk dipergunakan untuk "mentadabburi" (merenungi) ayat-ayat Ilahi yang datang pada malam itu dan menjadikan malam itu menjadi malam yang sangat istimewa. Satu malam yang dipergunakan untuk merefleksikan "hidayah" Allah, dihayati, dimengerti dengan komitmen diamalkan. Demikian itu tentu jauh lebih baik dari sekedar shalat-shalat sunnah yang terkadang bertujuan menghitung-hitung pahala semata. Kehidupan semalam dengan naungan "petunjuk" sebagai bekal dalam menggapai sisa-sisa kehidupan ke depan, jauh lebih baik dari kehidupan seribu bulan lagi atau sekitar 84 tahun, namun jauh dari hidayah-Nya Allah SWT. Karena nilai hidup manusia bukan pendek dan panjangnya, tapi ditentukan oleh nilai "kesadaran” akan kebesaran Ilahi (taqwa) yang dimiliki seseorang.
Penutup
Demikianlah yg dapat penulis uraikan. Suatu kajian ilmiah yang dapat memotivasi kita untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam hati dengan men-tadabbur-i ayat-ayat Allah yang tersurat. Kemudian berupaya memahami pesan-pesanNya lewat ayat-ayat keaguanganNya yang tersirat untuk kemudian diaplikasikan dalam perjalanan hidup di dunia yang fana menuju aherat yang baka.
Semoga Allah swt. senantiasa memberi hidayah dan kekuataan dhahir-batin pada kita untuk menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, kususnya di bulan Ramadhan yang suci penuh dengan barakah, rahmah dan ampunan ini. Hingga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-sebaiknya sesuai dengan ajaran dan tuntunan Rasulullah saw dan bisa mempersiapkan diri (dhahir-batin) untuk menyambut datangnya “Lailat al Qadr”, suatu malam yang sangat mulia yang hanya ditemui oleh orang-orang yg bersih nan suci jiwa dan raganya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang tersebut, amiiin.
.
Refrensi.
1. Al Qur’an al Karim.
2. Subulus Salam, Syarkh Bulugh al Maram min Jam’I Adillat al Ahkam. Al Imam Muhammad Ibn Ismail al Amir al Yamani al Shan’ani. Jld 1. Kuliah Dakwah Islamiah. Tripoli-Libya.
3. Tarikh al Tasyri’ al Islami. Al Syekh Muhammad al Khudhari Biek. Kuliah dakwah Islamiah. Tripoli-Tripoli.
4. Syarkh Ibn Aqil ‘ala Alfiyat Ibn Malik. Jld II. Kuliah Dakwak Islamiah. Tripoloi-Libya.
5. Kumpulan artikel tentang puasa Ramadhan dan Lailat al Qadr.
[1] Tarikh al Tasyri’ al Islami. Al Syekh Muhammad al Khudhari Bik. Kuliah dakwah Islamiah. Tripoli-Libya
[2] “Tanazzalu” asalnya adalah “tatanazzalu”. Salah satu huruf ta’-nya dibuang untuk meringankan bacaan. Lihat “Syarkh ibn Aqil ‘Ala Alfiyat Ibn Malik”. Jld 2. hlm 260.Kuliah Dakwah Islamiah. Trip0li-Libya
more
-
Menelisik Rayuan Setan Dalam Kisah Nabi yusuf (6)
Pertemuan kembali keluarga Ya'ub
Sejak kembalinya kafilah putera-puteranya dari Mesir tanpa Benyamin dan Yahudza, duka nestapa dan kesedihan Ya'qub makin mendalam dan menyayat hati. Ia tidak bisa tidur setiap malam. Ia mengenang ketiga puteranya yang tidak tentu nasibnya. Ia hanya merasa terhibur jika ia sedang menghadap Allah, sholat, bersujud seraya memohon kepada Allah agar mengaruniainya kesabaran dan keteguhan iman menghadapi ujian dan cobaan yang sedang ia alami.
Ia kadangkala berkhalwat seorang diri melepaskan air matanya bercucuran sebebas-bebasnya untuk melegakan dadanya yang sesak. Fisik Nabi Ya'qub makin hari makin tampak menjadi lemah. Tubuhnya makin kurus hingga tinggal kulit saja yang melekat pada tulang, ditambah pula dengan kebutaan matanya yang menjadi putih. Di mana hal itu menjadikan putera-puteranya kuatir terhadap kelangsungan hidupnya. Mereka menegurnya dengan mengatakan: "Wahai ayah! Ayah adalah seorang Nabi dan pesuruh Allah yang dari-Nya wahyu diturunkan dan darinya kami mendapat tuntunan dan ajaran iman. Sampai kapankah ayah bersedih hati dan mencucurkan air mata mengenang Yusuf dan Benyamin? Tidak cukupkah sudah badan ayah yang hanya tinggal kulit di atas tulang dan mata ayah yang telah menjadi buta? Kami sangat kuatir bahwa ayah akan menjadi binasa jika tidak menyadarkan diri dan berhenti mengenang Yusuf dan Benyamin".
Ya'qub menjawab teguran putera-puteranya itu seraya mengatakan: "Kata-kata teguranmu justeru menambah kesedihan hatiku dan bahkan membangkitkan kembali kenangan-kenanganku pada masa yang lalu, di mana semua anak-anakku berkumpul di depan mataku. Aku berkeyakinan bahwa Yusuf masih hidup dan suara hatiku membisikkan kepadaku bahwa ia masih berkeliaran di atas bumi Allah ini. Namun di mana ia berada dan nasib apa yang ia alami, hanya Allahlah yang mengetahuinya. Bila kamu benar-benar sayang kepadaku dan ingin melegakan hatiku serta menghilangkan rasa sedih dan duka-citaku, pergilah kamu merantau mencari jejak Yusuf dan berusahalah sampai menemuinya dan setidak-tidaknya mendapat keterangan di mana ia berada sekarang dan jangan sesekali berputus asa karena hanya orang-orang kafirlah yang berputus asa dari rahmat Allah".
Seruan Ya'qub dipertimbangkan oleh putera-puteranya dan diterimanyalah sarannya, setidak-tidaknya sekadar membesarkan hati si ayah dan meredakan rasa penderitaannya yang berlarut-larut. Dan sekali pun mereka merasa tidak mungkin mendapatkan Yusuf kembali dalam keadaan hidup. Namun jika mereka berhasil membujuk penguasa Mesir mengembalikan Benyamin, maka hal itu sudah cukup untuk menghibur ayah mereka. Rencana perjalanan dirundingkan dan terpilihlah Mesir sebagai tujuan pertama dari perjalanan mereka mencari jejak Yusuf sesuai dengan seruan Ya'qub dengan maksud sampingan untuk membeli gandum lagi agar persediaan makanan tercukupi.
Tibalah kafilah putera-putera Ya'qub di Mesir untuk ketiga kalinya dan dalam pertemuan mereka dengan Yusuf, wakil raja Mesir yang berkuasa, berkatalah juru bicara mereka: "Wahai Tuan! Keadaan hidup yang sukar dan melarat di negeri kami disebabkan krisis bahan makanan yang belum teratasi memaksa kami datang kembali untuk ketiga kalinya mengharapkan bantuan dan murah hati tuan. Kedatangan kami kali ini juga untuk mengulang permohonan kami kepada paduka tuan kiranya adik bngsu kami Benyamin dapat dilepaskan untuk kami bawa kembali kepada ayahnya yang sudah buta kurus kering dan sakit-sakitan sejak Yusuf, abang Benyamin hilang. Kami sangat mengharapkan kebijaksanaan tuan agar mengabulkan permohonan kami ini. Muhngkin, dengan kembalinya Benyamin ke pangkuan ayahnya dapat meringankan penderitaan batinnya serta bias memulihkan kembali kesehatan badannya yang hanya tinggal kulit yang melekat pada tulangnya.
Kata-kata yang diucapkan oleh abang-abangnya menimbulkan rasa haru pada diri Yusuf dan tepat mengenai sasaran di lubuk hatinya. Hal itu menjadikan ia merasa bahwa masanya telah tiba untuk mengenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya dan dengan demikian akan dapat mengakhiri penderitaan ayahnya yang malang itu. Berucaplah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Masih ingatkah kamu apa yang telah kamu lakukan terhadap adikmu Yusuf, tatkala kamu memperturutkan hawa nafsu melemparkannya ke dalam sumur di suatu tempat yang terpencil? Dan masih ingatkah kamu tatkala seorang darimu memegang Yusuf dengan tangannya yang kuat, menanggalkan pakaiannya dari tubuhnya lalu dalam keadaan telanjang bulat ditinggalkan seorang diri di dalam sumur yang gelap dan kering itu? Tanpa menghiraukan ratap tangisnya, kamu kembali pulang ke rumah dengan rasa puas seakan-akan kamu telah membuang sebuah benda atau seekor binatang yang tidak patut dikasihani dan dihiraukan nasibnya. Masih ingatkah kamu semua peristiwa itu?
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wakil raja Mesir itu, tercenganglah para saudara Yusuf, bertanya-tanya kepada diri sendiri masing-masing, seraya mamandang antara satu dengan yang lain, bagaimana peristiwa itu sampai diketahuinya secara rinci. Padahal tidak seorang pun dari mereka pernah membocorkan berita peristiwa itu kepada orang lain, juga kepada Benyamin pun yang sedang berada di dalam istana raja. Kemudian masing-masing dari mereka menyorotkan matanya kepada Yusuf dari mulutmya dan seluruh tubuhnya dari kepala sampai kakinya. Dicarinya ciri-ciri khas yang mrk ketahui pada tubuh Yusuf semasa kecilnya. Lalu berbisik-bisiklah mereka dan sejurus kemudian keluarlah dari mulut mereka secara serentak suara teriakan : "Engkaulah Yusuf".
"Benar", Yusuf menjawab, Akulah Yusuf dan ini adalah adik kandungku, Benyamin. Allah dengan rahmat-Nya telah mengakhiri segala penderitaanku dan segala ujian berat yang telah aku alami dan dengan rahmat-Nya pula kami telah dikaruniai nikmat rezeki yang berlimpah ruah dan penghidupan yang sejahtera. Demikianlah barangsiapa yang bersabar, bertaqwa dan bertawakkal, tidaklah akan luput dari pahala dan ganjarannya.
Setelah mendengar pengakuan Yusuf, berubahlah wajah mereka menjadi pucat. Terbayang di depan mata mereka apa yang mereka perbuat terhadap diri adik mereka Yusuf yang berada di depan mereka sebagai wakil raja Mesir yang berkuaa penuh. Mereka gelisah tidak dapat membayangkan pembalasan apa yang akan mereka terima dari Yusuf atas dosa mereka itu.
Berkatalah saudara-saudara Yusuf dengan nada yang rendah: "Sesungguhnya kami telah berdosa terhadap dirimu dan bertindak kejam ketika kami melemparkan kamu ke dasar sumur. Kami lakukan perbuatan kejam itu, karena terdorong oleh hawa nafsu dan bisikan syetan yang terkutuk. Kami sangat menyesali peristiwa itu. Akan tetapi kini tampak kepada kami akan kelebihanmu atas diri kami dan bagaiman Allah telah mengaruniakan nikmat-Nya kepadamu sebagai ganti penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan kami yang durhaka terhadap dirimu. Maka terserah kepadamu, balasan apakah yang akan engkau timpakan pada kami yang telah berdosa dan mendurhakaimu".
Yusuf menenteramkan hati saudara-saudaranya yang sedang ketakutan, seraya berkata: "Tidak ada manfaatnya menyesali apa yang telah terjadi dan menggugat kejadian-kejadian yang telah lalu. Cukuplah sudah jika itu semua menjadi pelajaran bahwa mengikuti hawa nafsu dan suara syetan itu selalu akan membawa penderitaan dan mengakibatkan kebinasaan di dunia dan di akhirat. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosamu, karena Dialah Yang Maha Penyayang serta Maha Pengampun. Pergilah kamu sekarang juga kembali kepada ayah dengan membawa baju kemejaku ini. Usapkanlah ini pada kedua belah matanya, insya-Allah akan menjadi terang kembali, kemudian bawalah ia bersama semua keluarga ke sini secepat mungkin.
Maka bertolaklah kafilah putera-putera Ya'qub dengan diliputi rasa haru bercampur gembira, kembali menuju ke Palestina membawa berita gembira bagi ayah mereka yang sedang menanti hasil usaha pencarian Yusuf yang disarankannya. Dan saat kafilah sudah mendekati akhir perjalanannya dan hampir memasuki Palestina ayah mereka Nabi Ya'qub memperoleh firasat bahwa pertemuannya dengan Yusuf, putera kesayangannya sudah berada di ambang pintu. Firasat itu diperolehnya sewaktu ia berkhalwat seorang diri di mihrab tempat ibadahnya bermunajat kepada Allah, berzikir dan bersujud seraya melepaskan air matanya bercucuran dan suara tangisnya menggema di seluruh sudut rumah, sekonyong-konyong suara tangisnya berbalik menjadi gelak ketawa, air matanya berhenti bercucuran dan keluarlah ia dari mihrabnya berteriak: "Aku telah mencium bau tubuh Yusuf dan aku yakin bahwa aku akan menemuinya dalam waktu dekat. Ini bukan khayalan dan bukan pula bawaan kelemahan ingatan yang selalu kamu tuduhkan kepadaku.
Sejurus kemudian berhentilah kafilah di depan pintu rumah turunlah putera-putera Ya'qub dari atas unta masing-masing, beramai-ramai masuk ke dalam rumah dan berpelukan dengan ayah sambil mengusapkan baju kemeja Yusuf pada kedua belah matanya. Seketika itu pula terbuka lebarlah kedua belah mata Ya'qub, bersinar kembali memandang wajah putera-puteranya dan mendengar kisah perjalanan putera-puteranya dan bagaimana merekaa telah menemukan Yusuf bersama adiknya Benyamin. Disampaikan pula kepada ayah seruan dan undangan Yusuf agar semua keluarga berhijrah ke Mesir dan bergabung menjadi satu di dalam istananya. Dan segera berkemas-kemaslah Ya'qub sekeluarga menyiapkan diri untuk berhijrah ke Mesir.
Setibanya di istana, dirangkullah si ayah oleh Yusuf seraya mencucurkan air mata. Demikian pula ayah tidak ketinggalan mencucurkan air mata, namun kali ini adalah air mata suka dan gembira. Semuanya pada merebahkan diri bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah serta penghormatan bagi Yusuf, kemudian dinaikkanlah ayah dan ibu tirinya yang juga saudara ibunya ke atas singgasana seraya berkata: "Wahai ayahku! Inilah takbir mimpiku yang dahulu itu, sekarang menjadi kenyataan. Dan tidak kurang-kurang rahmat dan karunia Allah kepadaku yang telah mengangkatku dari dalam sumur, mengeluarkan aku dari penjara dan mempertemukan kami semua setelah syetan merusak hubungan persaudaraan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Allah Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Kemudian Yusuf mengangkat kedua tangannya berdoa: "Ya Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan mengajarkan padaku pengetahuan serta kepandaian mentakbir mimpi. Ya Tuhanku Pencipta langit dan bumi! Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, beriman dan bertakwa dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang soleh.
more
Langganan:
Postingan (Atom)