• Ada Apa Dengan TTM?

    ADA APA DENGAN TTM?

    By: Afy Fu’ady

    Manusia adalah anak zaman -begitu kata kebanyakan orang-, terlebih anak mudanya. Kenapa? Karena anak mudalah yang paling banyak mengakses hal-hal baru yang dibawa oleh zaman. Mereka cenderung merasa suka jika terkenal sebagai anak yang peka zaman, dengan kata lain tidak ketinggalan zaman. Segala aspek kehidupan yang dibawa oleh zaman, hampir kesemuanya diakses oleh para pemuda, terlebih hal-hal yang berbau kesenangan dan kenikmatan.
    Mereka sangat menikmati peredaran zaman yang hingar-bingar dengan berbagai ragam jenis budaya, seni, pakaian, sikap, istilah, bahkan karakternya. Semua itu mampu mengarahkan masyarakat luas -kususnya para pemuda- pada karakter-karater tertentu yang terkadang menyimpang dari garis-garis norma kehidupan kehidupan.

    Misalkan dalam budaya, banyak dari kita yang mengadopsi budaya Barat dengan tanpa sadar, bahkan merasa senang. Padahal budaya itu sebenarnya menyimpang dari norma-norma kehidupan, seperti budaya “sun pipi” saat “wanita zaman” (perempuan yang hanyut dengan hangar-bingar zaman) bersua dengan laki-laki lain yang bukan saudara maupun familinya.

    Dalam kasenian, kita lihat sebagian seniman banyak yang berkata bahwa penampilan-penampilan vurgar dan yang setara dengannya disebut bagian dari seni yang wajar dikonsumsi. Padahal secara tidak langsung hal itu akan menururunkan martabat vulgaris tadi di mata masyarakat umum. Namun, ironisnya para vulgaris itu tidak merasa demikian, bahkan mereka merasa enjoy dan happy.

    Begitu juga dalam hal pakaian, seberapa banyak mata kita melihat (sengaja maupun tidak sengaja) pemandangan-pemandangan yang menyegarkan mata (bagi yang merasa dan menikmatinya), namun sebenarnya meresahkan hati? Zaman kuno dahulu, terbilang wajar orang baduwi (orang pegunungan) berpakian dengan membuka aurat, bahkan kadang hanya sekedar menutupi kemaluannya saja, karena memang dulu belum ada bahan penutupnya seperti sekarang. Zaman sekarang tidak sedikit orang yang gaya berpakaiannya meniru orang-orang baduwi dulu. Di kota-kota, bahkan sekarang sudah menjalar ke desa-desa, kita sering kali melihat “wanita zaman” berpakaian dengan sehelai kain yang hanya berdiameter 15cm bagian bawahnya dan sehelai kain transparan yang melilit tubuhnya, tanpa ada penutup lain yang menghalangi warna kulitnya. Hingga berpakain pun sama seperti telanjang. Nau’udzu billah min syarri afaatiz zaman.

    Selain itu, “anak zaman” juga suka berhelah untuk menutupi habitually aktivitas–nya dengan mengeluarkan istilah-istilah baru yang mampu menggerakkan kinerja otak kebanyakan orang agar tidak berpikiran negative terhadap aktivitas-aktivitasnya tadi. Misalkan saja, “permainan judi” diganti dengan istilah SDSB, suap-menyuap dilabeli “sedekah”, pacaran dibungkus dengan istilah TTM (teman tapi mesra), dll.


    Apa yang Dimaksud Dengan TTM?

    Istilah TTM muncul di masyarakat kurang-lebih tiga-empat tahunan yang silam. TTM ini merupakan kependekan dari Teman Tapi Mesra. Kalau ditelusuri dari katanya, kita akan bisa memahami makna TTM itu dengan mudah.

    Kata “teman”, mungkin diambil dari “Temu-Salaman”, artinya setiap orang yang kita temui, kemudian kita ajak berkenalan. Siapapun orangnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik kecil maupun dewasa yang pernah kita ajak berkenalan disebut “teman”. Di antara teman ini kadang ada yang memiliki karakter yang sesuai dengan karakter kita, hingga membuat teman itu betah berlama-lama dengan kita. Kemudian mengantarkan pada sebuah “ikatan gaib” yang membelenggu keduanya agar tidak saling berjauhan apalagi berpisah. Ikatan gaib yang disebut dengan “love”. Suatu ikatan yang timbul dari seringnya bersua, bercengkerama, bercanda-ria antara laki dan perempuan, bahkan kadang timbul juga antar sesama jenis, sebagaimana yang tercover dalam kehidupan kaum “guy” dan dunia “lesbian”.

    Sedangkan kata “tapi”, merupakan kata yang memiliki arti menafikan atau merubah arti kata yang jatuh sebelumnya. Berarti kata “teman” yang jatuh sebelum kata “tapi” sangat memungkinkan sekali memiliki arti lain, atau memberikan penekanan arti pada kata “teman” tadi. Artinya, teman yang bukan sekedar teman biasa.

    Adapun kata “mesra”, mungkin diambil dari kata Arab “musirrun”, yang artinya “sesuatu yang menyenangkan”. Dari pemahaman ini, setiap hal yang mendatangkan kesenangan hati dapat dikatakan mesra. Namun, dalam penggunaannya, kata “mesra” diidentikkan pada sikap atau sifat seseorang terhadap lainnya.

    Dengan demikian dapat kita pahami bahwa TTM adalah setiap orang yang pernah kita kenal dengan baik, kemudian berlanjut dengan saling kontak special yang dibumbui dengan kata-kata manis yang menyenangkan hati masing-masing.

    Berbeda dengan kata “sobat”. Kata “sobat” asalnya “sahabat”. Kata “sahabat” diambil dari bahasa Arab yang berakar kata dari “Shohiba”, artinya “menyertai”. Dari sini bisa dikatakan bahwa sobat adalah setiap orang yang sering menyertai kita dalam kelangsungan hidup. Sobat, cenderung juga disebut “karib”, dan terkadang dua kata tersebut digabung menjadi satu istilah “sobat karib” dengan pengertian yang sama. Namun, jika keduanya dipisahkan, maka kata “karib” artinya lebih mendalam dari kata “sobat”, maksudnya seorang karib itu lebih sering dan lebih dekat dengan kita dibanding seorang sobat.

    Apa Bedanya TTM Dengan Kekasih atau Pacar?

    Pertanyaan ini bisa dijawab dengan melontarkan pertanyaan ; apakah kamu mempunyai teman? Apakah kamu punya kekasih atau pacar? Untuk menjawab pertanyaan pertama, tentu dengan mudah dan ringan kita menjawabnya, tentu saja aku punya teman. Namun, jika kita ditanya dengan pertanyaan yang kedua, maka kita akan berpikir dulu untuk menjawabnya dan kadang lidah terasa berat untuk menjawab pertanyaan itu.

    Dari sini tampak di mata kita bahwa antara teman dan pacar atau kekasih ada perbedaan yang mendasar. Kalau teman, kita pasti punya lebih dari satu orang. Di antara mereka ada yang kita suka dan ada yang kita benci, bahkan ada yang kita istimewakan. Berangkat dari seorang teman yang kita istimewakan inilah muncul dalam hati kita benih-benih perasaan aneh yang kadang membuat kita susah jika sehari tidak melihatnya dan merasa sangat senang dan tenang hati kita jika melihatnya.

    Komunikasi yang kita pakai dengan seorang teman yang kita istimewakan ini seringkali kita bumbui dengan kata-kata manis menggoda. Di mana bumbu-bumbu kata manis itu mampu menghiasi dinding-dinding hati kita dengan bunga-bunga indah yang berwujud lukisan senyum sang teman istimewa. Kemudian, semakin hari hiasan tersebut semakin tampak indah dan mengkristal dalam hati. Hingga ahirnya teman istemewa tadi benar-benar menjadi satu-satunya orang yang paling spesial bagi kita, yang lazim kita sebut dengan istilah “kekasih/pacar”.

    Adapun TTM sendiri, bukanlah sang kekasih itu. TTM merupakan langkah yang menengahi antara teman dan kekasih. Pertama kita mempunyai teman, kemudian sebagian teman itu kita perlakukan dengan istimewa, yang kita sebut –dengan istilah sekarang- dengan TTM, dan satu di antaranya ada yang paling kita istimewakan, yang kita sebut dengan “kekasih”.

    Jadi ada sedikit perbedaan atara TTM dan kekasih atau pacar. Kalau TTM mungkin kita akan memliki lebih dari satu, tapi kekasih –yang sebenarnya- hanyalah satu. Namun, kadang kita menemukan juga orang yang mempunyai kekasih lebih dari satu, tapi itu sangat langka. Sebab, kekasih itu identik dengan seseorang yang menjadi objek “our love”, dan “love” itu –yang sebenarnya menurut kebanyakan orang dan fakta- hanya satu dan untuk objek yang satu.


    Bagaimana Islam Memandang TTM?

    Islam merupakan agama universal. Islam senantiasa memperhatikan kemaslahatan setiap pemeluknya, baik kemaslahatan duniawi maupun kemaslahatan ukhrawi. Kemaslahatan duniawi bisa dicontohkan dalam kelangsungan hidup yang tercover dalam sejarah hidup Rasulullah saw bersama masyarakatnya. Sedangkan kemaslahatan ukhrawi dapat digali dari scenario kehidupan yang tercover dalam the best way of life umat manusia, yakni al Qur’an al Karim.

    Kemaslahatan dunia dapat ditemukan dalam interaksi kita dengan sesama dengan tanpa pilih kasih, dengan membedakan satu dari lainnya. Kemaslahatan ukhrawi terdapat dalam interakasi manusia dengan Penciptanya dan kadang juga ditemukan dalam interaksi antar sesama makhluq, baik yang berakal maupun tidak berakal.

    Dalam hal interaksi, baik antar sesama maupun interaksi makhluq dengan Khaliq, Islam sangat gamblang menjelaskan aturannya dalam al Qur’an. Dalam surat al Hujurat ayat 13, Allah swt berfirman: “Hai sekalian manusia sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah adalah orang yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”.

    Dalam ayat tersebut terdapat kata “supaya kamu saling mengenal”. Dari kalimat ini dapat kita pahami bahwa Islam menganjurkan kita untuk saling mengenal antar sesama, baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis, baik dengan sesama akidah atau agama maupun dengan yang berbeda akidah atau agama. Sebab dalam ayat tersebut tidak ada batasan yang mengikat pemahamannya. Sebab dengan adanya saling berkenalan itulah, muncul saling suka antar sesama. Di mana pernikahan yang merupakan satu-satunya sarana asas untuk memakmurkan dunia dengan beranak-pinak, awalnya didasarkan pada adanya saling berkenalan.

    Namun, al Qur’an tidaklah cukup hanya dipahami sepenggal-sepenggal saja, akan tetapi ia harus dipahami dengan pemahaman yang sempurna, yakni dengan mengaitkan satu kata / ayat dengan kata atau ayat lainnya jika memang saling berkaitan pemahamannya.

    Dalam ayat tersebut, setelah kalimat “supaya kamu saling mengenal”, terdapat kalimat “Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah adalah orang yang lebih taqwa di antara kamu”. Di mana kalimat tersebut memberikan pemahaman bahwa sekalipun Islam menganjurkan umat untuk saling mengenal dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis, bukan berarti ia memberikan kebebasan mutlak dalam berinteraksi tersebut, hingga laki-laki melakukan “sun pipi” pada perempuan lain (bukan isterinya) atau sebaliknya saat bertemu, atau laki-laki dan perempuan berduaan dalam tempat sunyi dengan saling meraba dan “perang mesra” . Namun, Islam memberikan batasan bahwa interaksi dengan lawan jenis itu diperbolehkan asal tidak melanggar norma-norma agama yang telah ditetapkan dalam al Qur’an. Hal ini bisa dipahami dari kata “yang lebih taqwa” dalam ayat tersebut.

    Kata “taqwa” yang menjadi tendensi orang terbaik di sisi Allah swt merupakan indikasi pada perintah untuk memperhatikan hal-hal yang dapat menggelincirkan seseorang dari jalan garis taqwa tadi. Kata “taqwa”, juga diartikan dengan “menjalani semua perintah Allah dan menjauhi laranganNya”. Dalam hal perintah dan larangan Allah, Islam telah merumuskan ketentuannya dalam syariat. Di mana syariat-syariat tersebut bukan hanya tercover dalam al Qur’an saja, melainkan juga tercover dalam hadis dan perilaku nabi Muhammad saw.

    Di antaranya, larangan untuk mengeluarkan kata-kata yang dapat menggerakkan birahi syahwat pada lawan jenisnya, berduaan dengan lawan jenis yang bukan isteri atau saudara/inya, dll. Larangan tersebut juga ditopang dengan kalimat berikutnya “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”. Artinya, kita diharuskan untuk selalu mengingat bahwa Allah swt itu Maha Mengetahui dan Maha Teliti terhadap segala hal yang kita lakukan, sekalipun hal itu tersimpan dalam perasaan atau hati kita yang teramat dalam. Kalimat terahir dari ayat tersebut juga bisa memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang bisa melalaikan kita untuk mengingatNya hukumnya tidak boleh. Misalkan, keasyikan dalam bercengkrama dan bercanda dengan sesama, walaupun pada awalnya hal itu terbilang mubah (boleh), tapi kalau sampai melalaikan kita dari kewajiban –seperti sholat-, maka bercanda dan bercengkrama tadi bisa berubah menjadi tidah boleh. Apa lagi bercanda dan bercengkrama dengan lawan jenis, lebih-lebih yang diistimewakan yang kita kenal sekarang dengan istilah TTM.

    Jadi, TTM menurut Islam dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama aspek social, dalam aspek social Islam menganjurkan untuk saling mengenal satu dengan lainnya. Berarti TTM kalau dilihat dari aspek social bisa dikatakan boleh, dengan catatan tidak ada hal-hal yang dilarang oleh syareat di dalamnya. Kedua, aspek syariat; Islam memandang TTM boleh selama tidak saling berpegangan, bersentuhan, berpandangan, dengan kata lain boleh dengan jarak jauh dengan catatan tidak melanggar aturan syareat, seperti via telpon, chat, email dsb. Ketiga aspek etika (tasawuf) ; dari sisi etikanya (tasawuf) Islam melarang TTM, karena itu bisa melalaikan si pelaku dari ingat pada Allah swt.

    Namun, perlu diperhatikan dengan seksama bahwa kita tidak boleh menghukumi sesuatu dengan melihat dari satu sisi semata, melainkan kita harus menghukumi sesuatu dengan melihat dari beberapa aspek yang ada. Singkatnya, untuk lebih berhati-hati TTM tidak diperbolehkan dalam Islam. sekalipun dari aspek social dan syareat membolehkan, namun itu pun dengan syarat-syarat yang sulit dilakukan, karena pada dasarnya TTM itu akan menembus larangan yang tetapkan oleh Islam. Renungkanlah ……..!!!!!

1 comments:

  1. salafiyah.pasuruan@gmail.com says:

    artikel anda bagus, perlu diteruskan...
    Teruskan perjuanganmu....

Leave a Reply

Monggo dikomentari ...